SMKN 1 Sijunjung Dorong Guru dan Siswa Hasilkan Buku Lewat Workshop Penulisan
On Rabu, November 04, 2026
| SMKN 1 Sijunjung mendorong guru dan siswa menghasilkan karya tulis melalui Workshop Penulisan Buku yang digelar selama dua hari, Rabu-Kamis (4-5/11/2026). (Fotdok: Armaidi Tanjung). |
Workshop yang berlangsung di ruang serbaguna SMKN 1 Sijunjung tersebut dibuka Kepala Sekolah Addurorul Muntatsiroh, M.Pd., dengan menghadirkan Pimpinan Pustaka Artaz, Armaidi Tanjung, sebagai narasumber. Kegiatan diikuti 40 peserta, terdiri dari 15 guru dan 25 siswa.
Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Suryanto, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi langkah SMKN 1 Sijunjung yang menjadikan menulis sebagai bagian dari pengembangan kemampuan guru dan siswa. Menurutnya, keterampilan menulis penting karena tidak semua orang mampu menuangkan pikiran dan pengalaman menjadi tulisan yang baik serta mudah dipahami.
"Orang lebih banyak suka bicara, tetapi kurang pandai menulis dengan baik. Padahal, aktivitas menulis memiliki banyak manfaat dan mampu melahirkan improvisasi yang luar biasa," ungkap Suryanto.
Ia mencontohkan sejumlah tokoh besar asal Sumatera Barat yang memiliki tradisi membaca dan menulis kuat, di antaranya Bung Hatta dan Buya Hamka. Keduanya menunjukkan bahwa keterbatasan keadaan tidak menghalangi seseorang untuk terus berkarya melalui tulisan.
Sementara itu, Addurorul Muntatsiroh yang akrab disapa Mumun mengatakan, workshop mengangkat tema Menulis Memoar Perjuangan Ayah dan Ibu: Kisah Mereka, Cerita Kita. Peserta diarahkan menggali pengalaman hidup, perjuangan, dan pengorbanan orang tua untuk dituangkan menjadi karya tulis.
"Di balik setiap langkah kita, ada kisah orang tua yang tak pernah selesai diceritakan. Kini, giliran kita yang memuliakannya," ujar Mumun.
Ia menegaskan, kegiatan tersebut tidak sekadar memberikan materi tentang teknik menulis, tetapi juga menargetkan penerbitan sebuah buku hasil karya bersama peserta. Guru dan siswa diberi ruang untuk menuangkan pengalaman, ide, pemikiran, serta kisah keluarga yang selama ini mungkin hanya tersimpan dalam ingatan.
Narasumber Armaidi Tanjung menekankan bahwa pengalaman pribadi merupakan sumber tulisan yang tidak pernah habis. Baik pengalaman menyenangkan maupun tidak menyenangkan, semuanya dapat diolah menjadi cerita yang memiliki nilai dan manfaat bagi pembaca.
Antusiasme peserta mulai terlihat melalui keberanian mereka menuangkan pengalaman ke dalam tulisan. Bahkan, sejumlah guru yang selama bertahun-tahun mengajar tetapi belum pernah menghasilkan karya tulis mulai berani menulis. Langkah tersebut menjadi awal penting untuk membangun budaya literasi sekaligus melahirkan buku yang merekam kisah perjuangan orang tua melalui karya guru dan siswa SMKN 1 Sijunjung. (*)
Pewarta: Armaidi Tanjung
Editor: Zamri Yahya, WU