HEADLINE
Jangan Jadi Mesin Penyebar Fitnah: Satu Klik Bisa Menjadi Dosa    
Rabu, September 16, 2026

On Rabu, September 16, 2026

Jangan Jadi Mesin Penyebar Fitnah: Satu Klik Bisa Menjadi Dosa
Al-Qur’an sudah mengingatkan manusia agar tidak bertindak ceroboh terhadap sebuah berita, seperti dalam QS. Al-Hujurat ayat 6. (Foto: Int). 

JEMPOL
bisa menjadi senjata. Bukan karena ukurannya, tetapi karena apa yang dilakukan dengannya. Satu kali menekan tombol share mungkin hanya membutuhkan waktu sedetik. Namun, akibatnya bisa menjalar ke mana-mana: nama baik seseorang hancur, keluarga dipermalukan, perselisihan meledak, bahkan kebohongan berubah menjadi “kebenaran” hanya karena terus diulang.

Yang lebih mengerikan, banyak orang merasa tidak sedang berdosa ketika menyebarkan kabar yang belum jelas. Kalimatnya sederhana: “Saya cuma meneruskan.” Seolah-olah tanggung jawab berhenti di tangan orang yang pertama membuat informasi. Padahal, ketika seseorang tahu sebuah berita belum tentu benar tetapi tetap menyebarkannya, ia ikut mengambil bagian dalam rantai penyebaran informasi tersebut.

Al-Qur’an sudah mengingatkan manusia agar tidak bertindak ceroboh terhadap sebuah berita. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepada kamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (ceroboh), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” Ayat ini bukan sekadar nasihat untuk dibaca saat pengajian. Ia adalah peringatan keras agar manusia tidak menjadi pelaku kerusakan akibat informasi yang tidak diperiksa.

Hari ini, masalahnya semakin parah. Judul bombastis dibaca tanpa isi. Potongan video dianggap sebagai fakta utuh. Foto lama disebarkan seolah kejadian baru. Pesan berantai tanpa sumber dipercaya hanya karena dikirim oleh orang yang dikenal. Bahkan kabar yang jelas-jelas belum terverifikasi tetap disebarkan karena dianggap “sayang kalau tidak ikut membagikan”.

Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas dalam HR. Muslim: “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” Bayangkan: seseorang tidak perlu menciptakan kebohongan sendiri untuk masuk dalam lingkaran dusta. Cukup dengan kebiasaan menceritakan segala sesuatu yang didengarnya tanpa memastikan kebenarannya.

Lebih keras lagi, Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kalian menjauhi dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, jangan menganggap remeh sebuah unggahan. Jangan mengira dosa hanya lahir dari kebohongan yang sengaja dibuat. Kecerobohan dalam menyampaikan informasi juga dapat membawa manusia kepada kerusakan yang lebih besar.

Pertanyaannya sekarang: ketika berita itu ternyata bohong, siapa yang bertanggung jawab? Orang yang membuatnya? Ya. Tetapi bagaimana dengan mereka yang ikut menyebarkannya? Apakah cukup berkata, “Saya tidak tahu itu hoaks”? Tidak semua akibat dapat dibatalkan dengan kalimat tersebut. Sebab, sebelum menyebarkan, manusia diberi akal untuk berpikir dan diberi tuntunan untuk melakukan tabayun.

Di media sosial, manusia sering mengejar kecepatan dan mengorbankan kebenaran. Ingin menjadi yang pertama mengunggah, yang pertama membagikan, yang pertama berkomentar. Padahal dalam urusan informasi, menjadi yang pertama bukanlah kemuliaan jika yang pertama itu justru menyebarkan kebohongan.

Lebih buruk lagi jika informasi tersebut menyangkut kehormatan seseorang. Tuduhan terhadap seseorang bukan permainan. Fitnah bukan hiburan. Membuka aib bukan prestasi. Dan mempermalukan orang lain di ruang publik bukan tanda keberanian. Ketika informasi yang disebarkan ternyata keliru, kerusakan terhadap kehormatan manusia belum tentu dapat diperbaiki hanya dengan satu kalimat klarifikasi.

Karena itu, sebelum jempol bergerak, gunakan kepala. Sebelum membagikan berita, periksa sumbernya. Sebelum ikut menghakimi seseorang, pastikan faktanya. Dan sebelum merasa paling tahu, ingat bahwa informasi yang salah dapat menyeret orang lain ke dalam masalah, sementara orang yang menyebarkannya bisa saja hanya duduk santai di balik layar.

Jangan menjadi manusia yang rajin menyebarkan berita tetapi malas mencari kebenaran. Jangan menjadi orang yang takut ketinggalan informasi tetapi tidak takut menyebarkan kebohongan. Jangan pula berlindung di balik kalimat “cuma share” ketika yang dibagikan ternyata mencelakakan orang lain.

Sebab, satu klik mungkin terlihat kecil di layar. Tetapi jika di balik klik itu ada kebohongan, fitnah, penghinaan, atau kerugian terhadap orang lain, persoalannya tidak lagi kecil.

Jadi, sebelum menekan tombol “bagikan”, tanyakan kepada diri sendiri: apakah saya sedang menyebarkan kebenaran, atau sedang membantu kebohongan menemukan lebih banyak korban?

Di situlah kualitas iman dan akhlak diuji—bukan ketika kita mampu berbicara banyak, tetapi ketika kita mampu menahan diri untuk tidak menyebarkan sesuatu yang belum kita ketahui kebenarannya. (*)

Dari Mikroalga Lokal Menuju Inovasi Kosmetik, ParagonCorp dan BRIN Bangun Jembatan Riset Berbasis Sains    
Rabu, September 16, 2026

On Rabu, September 16, 2026

Dari Mikroalga Lokal Menuju Inovasi Kosmetik, ParagonCorp dan BRIN Bangun Jembatan Riset Berbasis Sains
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang riset, pengembangan, dan pemanfaatan mikroalga sebagai bahan baku industri kosmetik. (Foto: Eko). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Inovasi tidak selalu dimulai dari sebuah produk. Kadang, ia berawal dari pertanyaan sederhana tentang sesuatu yang ada di sekitar, tetapi belum banyak dipahami. Dari sanalah riset bekerja: menggali karakteristik, menemukan potensi, kemudian perlahan membuka kemungkinan pemanfaatan. Semangat itulah yang kini mempertemukan ParagonCorp dan Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui eksplorasi mikroalga lokal Indonesia.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang riset, pengembangan, dan pemanfaatan mikroalga sebagai bahan baku industri kosmetik pada 1 September 2026 di ParagonCorp Head Office, Jakarta Selatan. Kerja sama ini mempertemukan kompetensi BRIN dalam bioprospeksi dan pengembangan mikroalga dengan pengalaman ParagonCorp dalam mengevaluasi bahan baku sekaligus memahami kebutuhan penerapannya di industri kosmetik.

Bagi ParagonCorp, pertemuan antara peneliti dan industri merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi. Peneliti membawa kedalaman pengetahuan ilmiah, sementara industri menghadirkan perspektif mengenai kebutuhan, tantangan, dan konteks penerapan. Ketika keduanya bertemu, ruang eksplorasi terhadap sumber daya hayati Indonesia pun dapat menjadi semakin luas.

“Bagi kami, kolaborasi riset bukan sekadar membawa hasil penelitian ke industri, tetapi membangun jembatan agar discovery dan kebutuhan industri dapat saling bertemu. Industri dapat membawa perspektif mengenai kebutuhan dan konteks aplikasi, sementara peneliti membawa kedalaman scientific knowledge,” ujar dr. Sari Chairunnisa, Sp.D.V.E., FINSDV, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp.

Dalam eksplorasi mikroalga lokal Indonesia, perjalanan riset dilakukan secara bertahap. Tahap awal mencakup pengembangan biomassa mikroalga, ekstraksi senyawa aktif, serta evaluasi untuk mengidentifikasi kandidat yang memiliki potensi dikembangkan sebagai bahan baku industri kosmetik. Proses tersebut menjadi fondasi untuk memahami lebih jauh karakteristik dan potensi sumber daya hayati yang diteliti.

Hasil dari tahapan awal kemudian dapat membuka jalan menuju penelitian berikutnya. Senyawa yang dihasilkan dapat dipelajari lebih dalam melalui karakterisasi dan evaluasi lanjutan, termasuk melihat kemungkinan aplikasinya. Dengan pendekatan ini, pengembangan bahan tidak semata-mata berangkat dari kebutuhan membuat produk, tetapi juga dari pertanyaan ilmiah dan potensi yang ditemukan sepanjang proses penelitian.

Dari sisi peneliti, keterlibatan industri menghadirkan konteks baru dalam melihat kemungkinan pemanfaatan sebuah discovery. Pemahaman terhadap kebutuhan, tantangan, dan karakteristik pengembangan bahan untuk aplikasi tertentu dapat memperkaya perspektif penelitian. Pada saat yang sama, kolaborasi membuka ruang pertukaran pengetahuan, fasilitas, sumber daya, dan keahlian antara dua ekosistem yang memiliki karakter berbeda.

“Kolaborasi dengan industri memberikan kesempatan bagi peneliti untuk melihat bagaimana pengetahuan dan hasil discovery dapat memiliki kemungkinan untuk dikembangkan lebih lanjut. Namun, proses tersebut tetap membutuhkan tahapan ilmiah yang kuat,” kata Dr. Ahmad Fathoni, M.Eng., Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN.

Bagi kedua pihak, kerja sama ini juga menjadi bagian dari semangat translational research, yakni menghubungkan pengetahuan yang lahir dari penelitian dengan kemungkinan penerapan dalam konteks yang lebih luas. Dalam industri kosmetik, perjalanan tersebut dapat mencakup pemahaman bahan, karakterisasi, evaluasi potensi, hingga penilaian terhadap kemungkinan pengembangannya sebagai bahan baku.

Yang menarik, hasil penelitian tidak langsung diarahkan pada satu kesimpulan akhir. Setiap tahapan justru menjadi pijakan untuk menentukan langkah berikutnya. Seiring perkembangan riset, luaran ilmiah seperti publikasi maupun paten bersama juga terbuka untuk dikembangkan sesuai dengan hasil penelitian.

Kerja sama ParagonCorp dan BRIN pada akhirnya memperlihatkan bagaimana potensi sumber daya lokal dapat dipertemukan dengan pengetahuan ilmiah dan kebutuhan industri. Mikroalga menjadi pintu masuk untuk mengeksplorasi kemungkinan baru, sementara kolaborasi menjadi jembatan agar proses pencarian tersebut dapat berjalan dengan pendekatan yang terukur dan berbasis sains.

Sejalan dengan semangatnya sebagai Purposeful Beauty Tech Company asal Indonesia, ParagonCorp memandang riset sebagai perjalanan untuk terus belajar, mengeksplorasi, dan mengembangkan teknologi yang relevan. Bukan hanya tentang menghasilkan produk, tetapi juga membangun pengetahuan, menggali potensi Indonesia, dan menciptakan nilai tambah melalui kolaborasi berbasis sains. Dari riset yang dimulai hari ini, selalu ada kemungkinan lahirnya pengetahuan dan inovasi baru untuk masa depan. (Eko) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Menjaga Aset, Menguatkan Manfaat: Mahyeldi Dorong Pengelolaan BMD Sumbar Tak Berhenti di Atas Kertas    
Rabu, September 16, 2026

On Rabu, September 16, 2026

Menjaga Aset, Menguatkan Manfaat: Mahyeldi Dorong Pengelolaan BMD Sumbar Tak Berhenti di Atas Kertas
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, ketika mengikuti Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (Raker/RDP) Komisi II DPR RI. (Foto: Budi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Sebuah aset pemerintah mungkin terlihat sederhana: sebidang tanah, sebuah bangunan, kendaraan, fasilitas pelayanan publik, atau kekayaan daerah lainnya. Namun, di balik setiap aset itu terdapat tanggung jawab besar. Bukan hanya bagaimana mencatat dan mengamankannya, tetapi juga bagaimana memastikan keberadaannya benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

Perspektif itulah yang ditegaskan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, ketika mengikuti Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (Raker/RDP) Komisi II DPR RI bersama Menteri Dalam Negeri, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Badan Bank Tanah, serta para gubernur, bupati/wali kota dan sekretaris daerah se-Indonesia di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Bagi Mahyeldi, pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD) tidak boleh berhenti pada urusan administrasi dan pencatatan dalam neraca pemerintah. Setiap aset harus memiliki status yang jelas, legalitas yang kuat, penguasaan yang pasti, serta arah pemanfaatan yang dapat mendukung pembangunan daerah. “Bagi kita, aset daerah bukan sekadar sesuatu yang tercatat dalam neraca pemerintah. Yang lebih penting adalah bagaimana aset tersebut aman, memiliki kepastian hukum, terkelola dengan baik, dan pada akhirnya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Mahyeldi.

Karena itu, Pemprov Sumbar terus mendorong penataan dan pengamanan aset melalui penguatan administrasi, sertifikasi, inventarisasi, serta koordinasi dengan berbagai pihak. Langkah tersebut menjadi penting agar aset pemerintah terlindungi dari potensi sengketa maupun penguasaan oleh pihak yang tidak berhak. Setelah aspek keamanan dan legalitas terpenuhi, tantangan berikutnya adalah memastikan aset tersebut tidak menjadi kekayaan yang sekadar tersimpan tanpa menghasilkan manfaat.

“Prinsipnya, kita ingin setiap aset yang dimiliki pemerintah benar-benar jelas statusnya dan jelas pula manfaatnya. Kalau memang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan publik atau meningkatkan nilai ekonomi daerah, tentu harus dikelola secara optimal dan sesuai aturan,” kata Mahyeldi. Dalam kerangka itu, Pemprov Sumbar juga berkomitmen memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, khususnya Kemendagri dan Kementerian ATR/BPN, untuk memastikan aset daerah memiliki kepastian hukum sekaligus dapat dikelola secara produktif.

Pesan tentang pentingnya mengubah cara pandang terhadap aset juga mengemuka dalam rapat tersebut. Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda menekankan bahwa pengelolaan aset pemerintah daerah perlu bergerak dari sekadar administrasi aset menuju manajemen aset. Sebab, aset yang tercatat belum tentu aman, aset yang telah bersertifikat belum tentu dikuasai secara fisik, dan aset yang dimiliki belum tentu memberikan manfaat secara optimal.

Rifqi menegaskan, setiap BMD idealnya dapat dijelaskan secara utuh: apa asetnya, di mana lokasinya, berapa nilainya, bagaimana status hukumnya, siapa yang menguasai, apakah sudah bersertifikat, apakah digunakan, serta bagaimana rencana pemanfaatannya. Dengan cara pandang tersebut, aset tidak lagi sekadar angka dalam neraca, tetapi menjadi bagian dari sumber daya yang harus dikelola secara terencana.

Perhatian yang sama juga diarahkan pada penyertaan modal pemerintah daerah kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Penyertaan modal, menurut Rifqi, perlu dipandang sebagai investasi publik yang memiliki dasar yang jelas, mulai dari business plan, kelayakan usaha, target kinerja, proyeksi imbal hasil, hingga manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Data per 1 Juni 2026 yang dipaparkan dalam rapat menunjukkan terdapat sekitar 1.092 BUMD di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 BUMD atau 27,5 persen mengalami kerugian. Sementara itu, laba bersih secara keseluruhan baru sekitar 1,9 persen dari total aset dan dividen sekitar 1 persen dari total aset. Angka tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai perlunya pengelolaan aset dan investasi daerah yang semakin terukur.

Bagi BUMD yang sehat, penguatan perlu dilakukan agar kontribusinya semakin optimal. Sementara BUMD yang menghadapi persoalan perlu memiliki agenda penyehatan dengan target dan batas waktu yang jelas. Ukuran keberhasilan pun tidak dapat disamaratakan. BUMD yang bergerak dalam pelayanan publik memiliki orientasi yang berbeda dengan BUMD komersial yang dituntut menunjukkan produktivitas dan return atas modal publik.

Pada akhirnya, pembicaraan mengenai aset daerah kembali pada satu pertanyaan mendasar: untuk siapa aset itu dikelola? Bagi Mahyeldi, jawabannya adalah masyarakat. “Yang kita jaga bukan hanya asetnya, tetapi juga amanah di balik aset tersebut. Karena setiap aset pemerintah pada hakikatnya adalah milik masyarakat yang harus dikelola secara bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Dengan demikian, penataan BMD bukan semata pekerjaan administratif yang berhadapan dengan dokumen, sertifikat, angka dan neraca. Lebih jauh, ia merupakan bagian dari upaya memastikan kekayaan daerah aman, memiliki kepastian hukum, dan mampu bergerak menjadi sumber manfaat bagi pembangunan. Di titik inilah pengelolaan aset menemukan maknanya: bukan sekadar menjaga apa yang dimiliki pemerintah, tetapi memastikan apa yang dimiliki daerah benar-benar kembali memberi nilai bagi masyarakat. (adpsb/bud). 

Editor: Zamri Yahya, WU

Menjemput Anggaran Pusat, Menyambung Asa Air Bersih dan Pengelolaan Sampah Kota Padang    
Rabu, September 16, 2026

On Rabu, September 16, 2026

Menjemput Anggaran Pusat, Menyambung Asa Air Bersih dan Pengelolaan Sampah Kota Padang
Fadly Amran didampingi Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Didi Aryadi, sejumlah kepala OPD teknis, hingga Direktur Perumda Air Minum Kota Padang Hendra Pebrizal. (Foto: Tommy). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Langkah strategis penataan kota kembali diakselerasi dari ruang rapat Kantor Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sumatera Barat. Pada Selasa (15/9/2026), Wali Kota Padang Fadly Amran memimpin jajarannya menggelar audiensi krusial bersama Kepala BPBPK Sumbar, Maria Doeni Isa.

Dalam pertemuan tersebut, Fadly Amran didampingi Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Didi Aryadi, sejumlah kepala OPD teknis, hingga Direktur Perumda Air Minum Kota Padang Hendra Pebrizal. Fokus utamanya satu: mempercepat dukungan pemerintah pusat untuk infrastruktur dasar Kota Padang.

Topik bahasan bergulir hangat di sekitar percepatan penanganan krisis air bersih, pengolahan sampah modern, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pascabencana hidrometeorologi. Momentum ini dimanfaatkan Pemko Padang untuk mengunci keberlanjutan alokasi anggaran pusat demi pemulihan layanan publik.
Persoalan air bersih menjadi perhatian tajam Wali Kota.

Fadly menyampaikan bahwa kolaborasi bersama Universitas Andalas (Unand) dalam pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) telah menemukan titik terang. Ia mendorong agar proyek ini segera menjangkau sambungan rumah, khususnya sebagai solusi permanen bagi daerah rawan kekeringan di Kecamatan Pauh dan Kuranji.

“Kerja sama dengan Unand sudah menemukan titik terang. Kita berharap ini berlanjut menjadi SPAM emergency dan SPAM untuk masyarakat terdampak kekeringan, sehingga persoalan air bersih dapat ditangani secara berkelanjutan,” ujar Fadly Amran.

Tak hanya SPAM Unand, nasib SPAM Gunung Pangilun juga diuji akibat keterbatasan lahan. Dari kebutuhan ideal sekitar 13.000 meter persegi, lahan yang tersedia saat ini baru 8.175 meter persegi. Namun, Fadly menegaskan bahwa kendala teknis tak boleh menghentikan pemenuhan kebutuhan vital warga.

“Kondisi air bersih kita sedang darurat, sehingga pembangunan SPAM Gunung Pangilun harus tetap berjalan. Kami berharap anggaran pemerintah pusat untuk proyek ini dapat diperjuangkan agar tetap dialokasikan untuk Kota Padang,” tegas Fadly.

Selain air, persoalan sampah juga menjadi prioritas. Fadly mendorong percepatan pembangunan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berteknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Langkah ini dinilai sangat strategis mengingat Padang memiliki industri semen yang siap menyerap hasil olahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.

“Kita ingin sampah dipilah sejak dari rumah tangga, sehingga yang sampai ke TPA pun masih bisa dimanfaatkan menjadi briket dan bahan bakar alternatif,” tambah Fadly optimistis.

Sinyal positif pun datang dari BPBPK Sumbar. Maria Doeni Isa menyambut baik usulan Pemko Padang dan siap mengawal perencanaan teknis ke tingkat pusat. Untuk proyek SPAM Unand, pihak balai menargetkan penyusunan Detail Engineering Design (DED) hingga sambungan rumah rampung pada awal Januari 2027, dilanjutkan proses lelang Maret 2027, serta masa konstruksi sepanjang 2027-2028.

Terkait SPAM Gunung Pangilun yang didukung pagu indikatif sekitar Rp400 miliar, BPBPK Sumbar akan segera menguji kelayakan teknis lahan seluas 8.175 meter persegi agar pembangunan dapat dioptimalkan. Sementara untuk TPST/RDF, peninjauan ulang DED akan disesuaikan dengan titik lokasi lahan yang disepakati.

Mengenai rehabilitasi pascabencana banjir, Maria mengingatkan pentingnya ketepatan pendataan infrastruktur dasar permukiman mengingat tenggat pembaruan Rencana Action Rehabilitasi dan Rekonstruksi (R3P) yang amat ketat.

“Seluruh kebutuhan harus teridentifikasi sebelum lelang agar tidak ada penanganan yang terlewat, mengingat pembaruan R3P dibatasi hingga 17 September,” kunci Maria, menutup ruang diskusi yang memberi angin segar bagi pemulihan dan modernisasi infrastruktur Kota Padang. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Dari Semarang untuk Ranah Minang, Vasko Suntik Semangat Kafilah Sumbar di MTQ Nasional    
Rabu, September 16, 2026

On Rabu, September 16, 2026

Dari Semarang untuk Ranah Minang, Vasko Suntik Semangat Kafilah Sumbar di MTQ Nasional
Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Vasko Ruseimy, datang bersama sang istri, Dianita Maulin, menemui langsung para kafilah dan official Sumbar, Selasa malam (15/9/2026). (Foto: Budi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Malam di Semarang terasa berbeda bagi Kafilah Sumatera Barat. Di tengah kesibukan menghadapi rangkaian Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI, hadir sebuah kunjungan yang membawa pesan sederhana, tetapi berarti: mereka tidak sedang berjuang sendirian.

Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Vasko Ruseimy, datang bersama sang istri, Dianita Maulin, menemui langsung para kafilah dan official Sumbar, Selasa malam (15/9/2026). Kehadiran itu bukan sekadar kunjungan seremonial. Vasko datang membawa motivasi, apresiasi, sekaligus memastikan bahwa perjuangan para peserta mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

Satu per satu wajah para kafilah dan official menyambut kedatangan Vasko. Hadir Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Sumbar Ahmad Zakri, Kepala Biro Kesra Edi Dharma Syafni, Ketua LPTQ Sumbar Prof. Ikhwan Matondang, Kabag Bina Mental dan Spiritual Marwansyah beserta jajaran.

Di tengah suasana tersebut, ada pula wajah-wajah dari ranah yang jauh tetapi tetap terasa dekat. Para perantau Minang yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Minang (IKM) Semarang turut hadir. Mereka dipimpin Nafrizon Bogek dan datang membawa dukungan bagi duta-duta Sumbar yang sedang berjuang di panggung MTQ Nasional.

Bagi Vasko, pertemuan malam itu sekaligus menjadi kesempatan untuk menepati janji. Sebelumnya, ia berkomitmen untuk datang langsung menemui Kafilah Sumbar di Semarang. Kini janji tersebut diwujudkan.

“Saya datang bersama istri memenuhi janji mengunjungi Kafilah Sumbar. Semua yang ada di Semarang saat ini telah melalui proses yang cukup panjang, baik adik-adik kafilah maupun para pendamping,” ujar Vasko.

Ia mengingatkan para kafilah bahwa kehadiran mereka di Semarang membawa harapan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengejar prestasi. Di belakang mereka ada masyarakat Sumbar dan masyarakat Minangkabau di ranah maupun rantau yang ikut menitipkan doa.

“Kita berangkat bersama karena yakin seluruh masyarakat Sumbar dan Minangkabau dari seluruh dunia mendoakan kita,” katanya.

Pesan Vasko juga ditujukan kepada para official. Ia memberikan apresiasi atas pendampingan yang terus dilakukan selama pelaksanaan MTQ, termasuk ketika tim official memperjuangkan hak kafilah melalui mekanisme resmi yang tersedia dalam penyelenggaraan perlombaan.

Menurutnya, keberanian official memperjuangkan hasil perlombaan merupakan bentuk perhatian dan tanggung jawab terhadap peserta. Setiap langkah tersebut, kata Vasko, merupakan ikhtiar agar Kafilah Sumbar mendapatkan hasil terbaik secara sportif dan sesuai ketentuan.

“Apa yang dilakukan tim official yang dipimpin Kepala Biro Kesra merupakan bentuk kepedulian untuk memperjuangkan yang terbaik bagi kafilah dan masyarakat Sumbar,” ucapnya.

Namun, perjuangan di Semarang ternyata tidak hanya menjadi urusan kafilah dan pemerintah. Ada kekuatan lain yang ikut mengalir dari masyarakat Minang di rantau. IKM Semarang disebut memberikan perhatian dan pelayanan kepada Kafilah Sumbar sejak kedatangan hingga pelaksanaan perlombaan.

Bagi Vasko, dukungan tersebut memperlihatkan bahwa ikatan ranah dan rantau masih menjadi kekuatan penting. Ketika para kafilah berdiri di arena perlombaan, dukungan masyarakat Minangkabau dari berbagai tempat turut menjadi energi yang menyertai langkah mereka.

“Saya mendapat laporan bahwa perantau Minang banyak membantu sejak awal sampai sekarang. Kita bersatu hari ini mendukung Kafilah Sumbar di ajang MTQ Nasional ini,” katanya.

Vasko pun menyampaikan harapan agar kebersamaan tersebut berbuah prestasi. Ia menyebut target menembus lima besar MTQ Nasional XXXI sebagai harapan yang ingin diwujudkan bersama.

“Sampai detik ini saya bangga membawa nama Sumbar. Kita sama-sama meyakini masyarakat Minang mendoakan kita untuk bisa menembus lima besar,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Biro Kesra Setdaprov Sumbar, Edi Dharma Syafni, menyampaikan bahwa perjuangan Kafilah Sumbar masih panjang. Babak penyisihan MTQ Nasional XXXI masih berlangsung hingga Kamis (17/9). Hingga Selasa malam, sebanyak 43 kafilah Sumbar telah mengikuti perlombaan di berbagai cabang.

“Untuk Rabu masih ada lima kafilah yang akan bertanding pada babak penyisihan. Kemudian pada Kamis juga masih ada lima kafilah yang akan mengikuti perlombaan,” jelas Edi.

Salah satu perkembangan penting datang dari Cabang Fahmil Al-Qur’an Putri. Tim Official Sumbar sebelumnya mengajukan protes secara tertulis kepada Dewan Pengawas dan Dewan Hakim MTQ Nasional. Protes tersebut diterima, sehingga Regu Sumbar dipastikan melanjutkan perlombaan ke babak berikutnya.

“Alhamdulillah protes kita diterima dan kafilah kita lolos ke babak berikutnya. Mohon dukungan dan doa dari Wakil Gubernur serta seluruh masyarakat Sumbar agar Kafilah Sumbar dapat meraih prestasi terbaik,” kata Edi.

Keputusan tersebut tertuang dalam surat Dewan Pengawas MTQN XXXI sebagai respons atas surat Ketua LPTQ Provinsi Sumbar Nomor 126/LPTQ-SB/IX/2026 tanggal 14 September 2026. Keputusan diambil setelah Dewan Pengawas menggelar rapat bersama Ketua dan Wakil Ketua Dewan Hakim serta seluruh Dewan Hakim Majelis Fahmil Al-Qur’an.

Malam itu, Semarang seolah menjadi titik temu antara ranah dan rantau. Pemerintah hadir, official mendampingi, para kafilah berjuang, sementara para perantau Minang ikut berdiri di belakang mereka.

Edi menilai kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga semangat dan konsentrasi peserta hingga seluruh tahapan MTQ selesai. Dukungan yang datang dari berbagai pihak membuat perjuangan para kafilah terasa sebagai perjuangan bersama.

“Ini menunjukkan bahwa kita tidak sendiri. Ada pemerintah, official, masyarakat Sumbar dan para perantau yang bersama-sama memberikan dukungan kepada kafilah. Semoga kebersamaan ini menjadi energi bagi seluruh peserta untuk memberikan yang terbaik,” pungkasnya. (adpsb/bud). 

Editor: Zamri Yahya, WU

Menggugah Generasi Muda di Kampus Unand, Fadly Amran Mulai Dari Kepemimpinan Hingga Mimpi Gastronomi Padang    
Rabu, September 16, 2026

On Rabu, September 16, 2026

Menggugah Generasi Muda di Kampus Unand, Fadly Amran Mulai Dari Kepemimpinan Hingga Mimpi Gastronomi Padang
Di atas panggung sesi Think + yang dipandu penuh kehangatan oleh moderator Yuliandre Darwis, Wali Kota Padang Fadly Amran tampil memikat. (Foto: Tommy). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Atmosfer Auditorium Universitas Andalas (Unand) mendadak bergemuruh pada Selasa (15/9/2026). Ribuan mahasiswa berkumpul, menyerap energi dari panggung bertajuk “Indonesia Punya Kamu”—sebuah kolaborasi apik antara Unand dan Garuda TV yang mengusung tema besar “Connecting Generations”.

Di atas panggung sesi Think + yang dipandu penuh kehangatan oleh moderator Yuliandre Darwis, Wali Kota Padang Fadly Amran tampil memikat. Ia tidak sekadar membawa deretan amanat birokratif, melainkan sebuah refleksi perjalanan hidup dan kepemimpinan yang langsung menyentuh denyut nadi para pembaca muda.

Kehadiran sosok-sosok penting—seperti Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar, Direktur Garuda TV Fahmi M. Anwari, hingga Rektor Unand Efa Yonnedi—semakin menegaskan betapa strategisnya momentum ini dalam menjembatani ide antar-generasi.

Fadly Amran mengawali kisahnya dengan bernostalgia pada masa-masa ia menempa diri di dunia organisasi sejak usia muda. Jejak langkahnya terbentang luas, mulai dari Junior Chamber International (JCI), KNPI Kota Padang dan Sumatera Barat, hingga HIPMI dan KADIN.

Bagi Fadly, ruang organisasi bukanlah sekadar tempat berkumpul, melainkan kawah candradimuka yang membentuk kedewasaan serta cara pandang seseorang terhadap dunia di sekitarnya.

“Organisasi itu mendewasakan, dan saya pun juga bisa meng-influence anak-anak muda di sekitar saya untuk bekerja dengan hati, dengan sejujurnya, dan menjadi pemimpin-pemimpin yang dapat memberikan manfaat,” tutur Fadly di hadapan riuh tepuk tangan mahasiswa.

Proses panjang itu pula yang menggembleng jalannya hingga dipercaya memimpin Kota Padang Panjang, hingga kini mengemban amanah sebagai Wali Kota Padang. Menurutnya, fondasi terpenting seorang pemimpin adalah keteguhan prinsip serta keberanian mengambil keputusan yang benar.

Semangat itulah yang kini ia tuangkan ke dalam tata kelola Pemerintahan Kota Padang melalui Program Unggulan Padang Amanah. Kepercayaan masyarakat, baginya, adalah bahan bakar utama untuk memastikan setiap lini pembangunan berjalan tepat sasaran.

“Pemerintahan itu harus dijalankan dengan amanah, dengan ketulusan. Kita juga harus berani menyampaikan yang benar dan mau mendengar, mau hadir di tengah masyarakat,” tegasnya penuh keyakinan.

Menatap wajah-wajah optimistis ribuan mahasiswa Unand, Fadly menyampaikan pesan mendalam. Ia mengingatkan bahwa tantangan zaman tak lagi cukup dihadapi hanya dengan deretan nilai akademis di atas kertas.

“Yang kita inginkan hari ini adalah anak-anak muda yang bukan hanya pintar, tetapi juga peduli terhadap lingkungan, peduli terhadap sesama, serta tahu bahwa bangsa ini sedang membutuhkan mereka,” tambahnya.

Tak berhenti pada dorongan karakter, Fadly juga melempar gagasan besar untuk masa depan ekonomi kota: mendorong Padang masuk ke dalam jejaring Kota Gastronomi UNESCO. Potensi kuliner Padang yang melegenda dinilainya mampu menjadi motor penggerak pariwisata sekaligus mengangkat derajat UMKM lokal.

“Kita berharap pengembangan gastronomi mampu mendorong UMKM naik kelas, sekaligus meningkatkan standar dan kualitas destinasi maupun usaha kuliner di Kota Padang, sehingga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan,” pungkas Fadly optimistis, menutup perbincangan yang meninggalkan jejak inspirasi mendalam bagi calon-calon pemimpin masa depan di Unand. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Surau Naik Status Jadi Masjid, Riyanda Putra Resmikan Masjid Tepi Air di Silungkang    
Selasa, September 15, 2026

On Selasa, September 15, 2026

Surau Naik Status Jadi Masjid, Riyanda Putra Resmikan Masjid Tepi Air di Silungkang
Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra meresmikan Masjid Tepi Air di Dusun Pasar Baru, Desa Silungkang Tigo, Senin (14/9/2026). (Foto: Marjafri). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra meresmikan Masjid Tepi Air di Dusun Pasar Baru, Desa Silungkang Tigo, Senin (14/9/2026). Peresmian ini menandai perubahan status fasilitas ibadah yang sebelumnya merupakan surau menjadi masjid yang diharapkan mampu melayani kebutuhan keagamaan sekaligus aktivitas sosial masyarakat.

Perubahan status tersebut bukan sekadar pergantian nama. Masjid Tepi Air kini diharapkan memiliki fungsi yang lebih luas sebagai pusat kegiatan keagamaan dan ruang berkumpul masyarakat di kawasan Pasar Nagari Silungkang.

Lokasi Masjid Tepi Air yang berada di samping Pasar Nagari Silungkang membuat keberadaannya cukup strategis. Aktivitas perdagangan dan mobilitas masyarakat yang berlangsung setiap hari menjadikan masjid tersebut memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat langsung bagi warga, pedagang maupun masyarakat yang beraktivitas di sekitar pasar.

Riyanda Putra menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat setempat atas peresmian Masjid Tepi Air. Ia menegaskan, peningkatan status fasilitas keagamaan harus dibarengi dengan pemanfaatan yang maksimal sehingga masjid benar-benar hadir menjawab kebutuhan masyarakat.

Menurut Riyanda, masjid jangan hanya ramai ketika waktu salat tiba. Keberadaannya juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan, pembinaan masyarakat, serta aktivitas sosial dan kemasyarakatan sepanjang tetap sesuai dengan fungsi dan ketentuan yang berlaku.

Pemerintah Kota Sawahlunto, kata Riyanda, berkomitmen terus membangun sinergi dengan masyarakat dalam mendukung pengembangan Masjid Tepi Air. Dukungan tersebut dapat diarahkan pada fasilitas maupun kegiatan yang dibutuhkan masyarakat dengan tetap memperhatikan ketentuan regulasi.

Dengan lokasinya yang berdekatan dengan pusat aktivitas ekonomi masyarakat, Masjid Tepi Air diharapkan menjadi salah satu fasilitas penting di Desa Silungkang Tigo. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat menunaikan ibadah, tetapi juga dapat memperkuat hubungan sosial dan kebersamaan warga.

Peresmian Masjid Tepi Air sekaligus menjadi momentum bagi masyarakat untuk menghidupkan masjid dengan berbagai kegiatan positif. Semakin aktif masjid dimanfaatkan untuk ibadah, pendidikan keagamaan, pembinaan generasi muda, dan kegiatan sosial, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Kehadiran Masjid Tepi Air di kawasan Pasar Nagari Silungkang diharapkan mampu memperkuat akses masyarakat terhadap fasilitas ibadah sekaligus menjadi ruang yang hidup bagi kegiatan sosial dan keagamaan. Bagi warga Desa Silungkang Tigo, perubahan dari surau menjadi masjid ini menjadi langkah baru untuk memperluas peran fasilitas keagamaan di tengah kehidupan masyarakat.

Kini, tantangannya bukan lagi sekadar memiliki masjid, tetapi bagaimana Masjid Tepi Air benar-benar dihidupkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. (*)

Pewarta: Marjafri