 |
| Tetaplah menulis, meski tidak ada media yang bersedia memuatnya. |
TETAPLAH menulis, meski suatu hari Anda sendiri malu membacanya. Tetaplah menulis, meski tidak ada media yang bersedia memuatnya. Sebab menulis bukan soal siapa yang membaca hari ini, melainkan siapa diri Anda setelah bertahun-tahun berlatih dalam sunyi.
Inspirasi yang Terlalu Dimuliakan
Dunia terlalu sering merayakan inspirasi, seolah-olah karya besar lahir dari kilatan ilham yang datang tiba-tiba. Kita diajari menunggu suasana hati, menunggu pikiran jernih, menunggu waktu yang tepat. Padahal, dalam praktiknya, penantian itu lebih sering berakhir sebagai alasan paling sopan untuk berhenti menulis.
Para penulis besar justru sepakat pada satu hal yang tidak romantis: menulis adalah kerja harian. Bukan wahyu. Bukan perasaan. Bukan momen sakral. Ia pekerjaan yang harus dijalani bahkan ketika tidak ada jaminan apa pun di ujungnya.
Disiplin yang Membosankan, Tapi Menyelamatkan
Haruki Murakami, novelis dunia yang karyanya diterjemahkan ke puluhan bahasa, tidur pukul sembilan malam dan bangun pukul empat pagi. Setiap hari. Ia menulis empat hingga lima jam, lalu berlari, berenang, membaca. Rutinitas itu ia ulang berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tidak ada cerita tentang menunggu mood. Yang ada hanyalah disiplin yang membosankan—dan justru karena itu menyelamatkan.
Murakami memahami bahwa kreativitas tidak tumbuh dari kebebasan tanpa batas, melainkan dari struktur yang dipatuhi dengan keras kepala.
Menulis Seperti Pegawai Kantoran
Stephen King bahkan lebih blak-blakan. Ia menulis setiap hari dengan target dua ribu kata. Tidak peduli hasilnya bagus atau buruk. Baginya, menulis adalah pekerjaan kantor. Duduk, bekerja, pulang. King tahu sesuatu yang sering kita hindari: tulisan yang baik lahir dari tumpukan tulisan yang buruk. Tidak ada jalan pintas melewati fase memalukan itu.
Inspirasi, dalam dunia King, hanyalah efek samping dari kerja rutin—bukan prasyaratnya.
Mengusir Kenyamanan dengan Sengaja
Maya Angelou memilih jalan yang ekstrem. Ia tidak pernah menulis di rumah. Ia menyewa kamar hotel murah, tanpa dekorasi, tanpa televisi. Ia datang pagi, pulang siang. Ruang itu ia ciptakan bukan untuk kenyamanan, melainkan untuk memaksa diri. Di sana, tidak ada pilihan lain selain menulis.
Angelou tahu, kenyamanan adalah musuh paling halus bagi kerja kreatif. Ia tidak melarang menulis—ia menidurkannya perlahan.
Ruang yang Tidak Romantis
J.K. Rowling menulis di kafe, bukan karena estetik, melainkan karena rumah terlalu penuh gangguan. Ia menghindari distraksi, bukan mengejar suasana ideal. Harry Potter lahir bukan dari ruang yang tenang, tetapi dari keputusan sadar untuk fokus di tengah kebisingan.
Di titik ini, jelas bahwa karya besar tidak menuntut kondisi sempurna. Ia menuntut keputusan yang tegas.
Berhenti Saat Masih Kuat
Ernest Hemingway menulis setiap pagi dan berhenti saat masih tahu apa yang akan ditulis besok. Ia sengaja menyisakan gagasan agar esok hari tidak memulai dari nol. Baginya, stamina menulis lebih penting daripada letupan emosi sesaat.
Hemingway paham, yang paling melelahkan dalam menulis bukan kata-kata, melainkan kehampaan ketika tidak tahu harus mulai dari mana.
Menulis sebagai Tanggung Jawab Moral
George Orwell tidak pernah memuja menulis sebagai pekerjaan menyenangkan. Ia menyebutnya melelahkan, menyiksa, dan penuh pergulatan. Namun ia tetap menulis—bahkan ketika sakit—karena baginya menulis adalah tanggung jawab moral. Berhenti menulis berarti membiarkan kebohongan tumbuh tanpa perlawanan.
Di tangan Orwell, disiplin menulis bukan soal produktivitas, melainkan soal keberpihakan.
Karya Besar Lahir dari Hidup yang Tidak Rapi
Leo Tolstoy menulis di tengah rumah tangga yang gaduh dan batin yang terus bergolak. Ia tidak menunggu hidupnya rapi. Justru melalui jadwal ketat dan pengulangan tanpa ampun, ia menundukkan kekacauan itu. War and Peace tidak lahir dari ketenangan, melainkan dari ketekunan yang panjang dan melelahkan.
Ini pengingat penting: hidup yang berantakan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Menulis di Antara Lelah dan Takut
Franz Kafka bekerja penuh waktu di kantor asuransi. Ia menulis larut malam, sering dalam kondisi lelah dan ragu. Ia bahkan ingin karyanya dibakar setelah wafat. Namun ia tetap menulis, karena tidak menulis terasa lebih menyakitkan.
Kafka mengajarkan bahwa keyakinan bukan syarat menulis. Ia justru sering datang belakangan—jika datang sama sekali.
Struktur untuk Menjaga Kewarasan
Virginia Woolf menulis setiap pagi di ruang yang sama, dengan ritme yang sama. Ia tahu pikirannya rapuh. Maka ia menciptakan struktur. Disiplin, baginya, bukan pengekangan, melainkan perlindungan.
Dalam dunia yang mudah bising, ritme adalah bentuk perlawanan.
Latihan Sunyi Bernama Menulis
Semua kisah ini mengarah ke satu kesimpulan yang tidak populer: menulis bukan untuk mengekspresikan diri, melainkan melatih diri. Dan latihan selalu menghasilkan keringat, bukan tepuk tangan.
Kita hidup di zaman yang terlalu cepat memberi penilaian. Tulisan diukur dari jumlah pembaca, jumlah likes, atau apakah ia dimuat media. Ketika tulisan ditolak, kita berhenti. Ketika tulisan terasa jelek, kita menyerah. Padahal, para penulis besar justru menulis dengan asumsi bahwa banyak dari tulisan mereka tidak akan dibaca siapa pun—dan itu tidak masalah.
Menulis Tanpa Janji Akan Dibaca
Tetaplah menulis, meski suatu hari Anda sendiri malu membacanya. Tetaplah menulis, meski tidak ada media yang bersedia memuatnya. Sebab menulis bukan soal siapa yang membaca hari ini, melainkan siapa diri Anda setelah bertahun-tahun berlatih dalam sunyi.
Karya besar tidak lahir dari kepercayaan diri yang berlebihan, melainkan dari ketekunan yang keras kepala. Dari orang-orang yang terus menulis bahkan ketika tidak ada jaminan apa pun.
Dan mungkin, di antara tumpukan tulisan yang Anda anggap gagal itu, suatu hari akan ada satu yang bertahan. Bukan karena ia sempurna, tetapi karena Anda tidak berhenti. (*)