HEADLINE
Dua Buku Terkait Syekh Burhanuddin Ulakan Dilauncing  Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku dan Living Heritage Syekh Burhanuddin    
Senin, Agustus 24, 2026

On Senin, Agustus 24, 2026

Dua Buku Terkait Syekh Burhanuddin Ulakan Dilauncing  Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku dan Living Heritage Syekh Burhanuddin
Dua buku dilauncing perdana  masing-masing berjudul “Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada  Syekh Burhanuddin” dan buku “Living Heritage Syekh Burhanuddin” Senin (24/8/2026). (Foto: Armaidi).

BENTENGSUMBAR.COM
- Dua buku dilauncing perdana  masing-masing berjudul “Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada  Syekh Burhanuddin” dan buku “Living Heritage Syekh Burhanuddin” Senin (24/8/2026) usai shalat Zuhur di Masjid Syekh Madinah Sungai Gimba Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. 

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Provinsi Sumatera Barat Drs. Nurmatias yang melauncingnya menyebutkan, kehadiran buku tentu semakin memperkuat dan memperjelas keberadaan Syekh Burhanuddin sebagai ulama pengembangan Islam di kawasan Minangkabau. 

“Kerja keras tim penulis yang dipimpin Prof. Dr. Duski Samad,   tentu patut kita apresiasi. Apalagi menjelang pembangunan Museum Syekh Burhanuddin di Ulakan Padang Pariaman,” kata Nurmatias.

Dikatakan Nurmatias, kehadiran buku ini siap disampaikan kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Buku ini tentu menjadi bukti bagaimana warisan, tradisi keagamaan yang tumbuh dan berkembangan hingga saat ini di Sumatera Barat yang memiliki mata rantai dengan Syekh Burhanuddin.

Prof. Duski Samad menyebutkan, kebesaran Syekh Burhanuddin tidak hanya di Sumatera Barat, melainkan di berbagai wilayah di Indonesia. Saat ini sudah ada surau Syekh Burhanuddin di sejumlah kota di Indonesia seperti  di berbagai kota di Pulau Jawa, Kota Palu, dan di rantau lainnya. 

“Banyak pihak memperebutkan warisan Syekh Burhanuddin, apakah itu terkait khalifah, sanad, tradisi,  maupun peninggalannya, tapi sering kali tidak mengetahui makna dan subtansi dari apa yang diperdebatkan tersebut. Buku ini tidak dalam konteks warisan dari sisi tersebut, hanya dari sisi warisan kaji (keilmuan). Jadi, jika ada pihak tidak sependapat dengan isinya, silakan tulis argumentasi lewat buku pula,” tutur Duski Samad yang sudah puluhan tahun meneliti terkait Syekh Burhanuddin Ulakan.   

Dikatakan Duski Samad, salah satu contoh Basapa. Apa makna dari Basapa, kapan dimulai, apa yang dilakukan, bagaimana muncul Sapa Gadang dan Sapa Ketek. Semua itu dikupas dalam buku ini, yakni “Living Heritage Syekh Burhanuddin”.  Jadi Basapa jangan seperti “ondong aia, ondong dadak”, tidak ada pegangan, hanya ikut-ikutan.

“Sedangkan buku kedua, “Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada  Syekh Burhanuddin”, memuat profil dan sosok 100 syekh dan tuanku yang bersanad kepada Syekh Burhanuddin. Masing-masing ulama tersebut memiliki kharisma dan perjuangan yang berat dalam mewariskan keilmuan dan tradisi yang sudah diajarkan Syekh Burhanuddin. Kehadiran buku merupakan langkah merawat sanad, menjaga warisan, meneruskan cahaya ilmu,” tutur Duski Samad.

Pimpinan Tour & Travel Tuanku Khalifah Ali Bakri Tuanku Khalifah menyebutkan kehadiran buku ini merupakan karya terbesar tentang Syekh Burhanuddin. Ada empat nagari di Padang Pariaman gudangnya tuanku. Yakni, Nagari Ukalan. Tapakis, Katapiang, Pakandangan. “Syekh dan tuanku yang ada dalam buku ini berjasa dalam mengembangkan dan mewariskan tradisi Islam yang sudah dikembangkan Syekh Burhanuddin.

“Dari buku ini, para ulama pendahulu belajar agama bertahun-tahun dari satu tempat ke tempat lain, dari satu guru ke guru lain. Beliau berjuang, menyebarkan, dan mengajarkan ilmu agama untuk kebahagian umat dunia akhirat. Ada banyak diantara mereka memiliki banyak murid yang tersebar di berbagai pelosok negeri,” tutur Ali Bakri.

Buku Ensiklopedia 100 Syekh dan Tuanku, Bersanad Pada Syekh Burhanuddin  setebal xiv + 784 halaman.    Sedangkan  Living Heritage Syekh Burhanuddin terdiri dari viii + 296 halaman.   Penulis  terdiri dari Duski Samad, Armaidi Tanjung,  Ahmad Damanhuri, Abdurrahman Ahady - Ampera Salim Pati Marajo – Fatmi Fauzani Duski – Firdaus - Marfiyanti - Neni Triana –Nurasiah Ahmad - Ridwan Arif  Yunaidi - Roni Faslah –Syahrul Mubarak – Syahminal. Buku diterbitkan Pustaka Artaz, Padang Pariaman. Yang berminat bisa menghubungi via WA 081363322245 (daman) dan 085263749179 (Med).

Turut memberikan testimoni Pimpinan Pesantren Darul Ikhlas Suhaili Tuanku Mudo, dan Zulnadi (Mantan Ketua KPU Padang Pariaman/sekarang advokat Padang Pariaman).  (r/*)

Bacaruik di Medsos, Itu Kurang Ajar    
Senin, Agustus 24, 2026

On Senin, Agustus 24, 2026

Bacaruik di Medsos, Itu Kurang Ajar
Oleh: Khairul Jasmi, Pimpinan Redaksi Singgalang, Budayawan, Penulis dan Komisaris BUMN asal Sumatera Barat. (Foto: Ist).

IKO apak ang bajoget ko den ha, pant…” Begitu kata seorang penyanyi remix di sebuah link IG. Apa yang tidak berani kita ucapkan secara langsung, ringan saja di media sosial. Sepertinya yang mengucapkan sedang marah pada seseorang yang mungkin menuduhnya tidak berhijab. Hijab itu tak perlu dipersoalkan, urusan dia dengan dirinya dan dengan agamanya. Tapi, bacaruik untuk umum, itu tak baik.

Kata-kata kurang ajar itu enteng di ruang publik. Seenteng asap rokok yang melayang di ruang musik. Seenteng bernapas. Ini sudah di luar adab Minangkabau, jika memang kita beradab.

Kalau kata itu tak sanggup diucapkan di depan mande sendiri, di halaman masjid, atau di dalam rumah gadang, maka kata itu tak boleh diumbar di mana pun. Media sosial termasuk di dalamnya. Kata yang menyebut kelamin, masuk di situ. Kata yang menarik-narik mande dan nenek moyang orang, masuk pula. Kata yang membuka aib perempuan, apalagi.

Sudah lama diskotik pindah ke rusuk rumah emak-emak. Lihatlah saat baralek. Akibat kemajuan teknologi musik, diskotik itu pindah masuk saku. Kapan ingin, tinggal buka link-nya. Maka muncullah anak-anak Minangkabau berjoget sampai pagi sambil adu perkakas.

Ini residu, bukan kemajuan. Tidak ada urusannya dengan peradaban. Nihil bobot.

Kegelisahan sebenarnya sudah muncul saat “Kutang Barendo” masuk lagu. Itu sejak puluhan tahun silam.

Kemudian dan kini, makin menjadi-jadi. Seberapa banyak pesta-pesta menampilkan orgen tunggal yang menggugah nafsu birahi. Memanggil-manggil “binatang buas” yang tidur. Apalagi diikuti gerakan eksotis. Melecehkan pemakai jilbab. Manafikan adat.

Seperti rambai dihempaskan, moral Minangkabau berserakan. Peristiwa demi peristiwa datang tanpa jeda. Ayah memperkosa anak. Ruang hiburan liar merembes ke rusuk rumah dan ke jalan. Gadis remaja memilih gantung diri. Narkoba menyusup hingga ke ruang-ruang yang selama ini dianggap suci. Ikatan sosial longgar, seperti seikat kayu yang diikat pada satu ujung saja. Bak sababan kayu bakabek ciek.

Semua ini terjadi di tengah banyaknya masjid dan di negeri yang orang terdidik ada di tiap kelok. Rumah tangga, yang seharusnya jadi benteng pertama, justru makin jauh dari sumbu.

Prostitusi kini dijajakan lewat aplikasi. Teknologi memindahkan banyak hal dari gedung ke genggaman. Kontrol sosial yang dulu jalan, kini tertinggal, kecuali untuk kasus viral. Negara, masyarakat, dan keluarga belum siap membaca perubahan ini. Kita gagap.

Kaum moralis sendiri kehilangan wibawa di mata orang banyak. Sebagian memilih diam. Sebagian lagi candu jabatan. Mestinya gubernur dan kepala daerah, ketua DPRD se-Sumbar, LKAAM, gelisah dan bersuara.

Dekadensi ini datang bertubi-tubi, seperti berabab ka talingo kabau. Tak didengar oleh yang semestinya bertindak. Tidak terdengar kemarahan yang cukup keras dari para pemimpin di Sumatera Barat. Seolah-olah semua lewat begitu saja.

Lalu kenapa hal-hal tabu sekarang dianggap lumrah? Karena di Minangkabau pemahaman agama dangkal, adat dangkal, moral bersama dangkal. Kenapa dangkal? Kita habis hari karena dengung ke dengung saja. Tidak pada kedalaman. Ini kalau disampaikan kepada yang ahli, kita pula yang disemburnya. Awak lo nyo ariak.

Pemimpin juga tidak menyandang hal-hal yang tidak ada APBD-nya. Tak ada anggaran. Memberantas dekadensi moral tidak bisa sekadar melarang, mesti diikuti edukasi yang benar. Maka, mestinya larang untuk yang sedang dan akan terjadi. Beri ajaran yang benar bagi generasi yang akan tumbuh.

Tugas siapa? Sansai kita dibuatnya, kan? Tidak. Gampang saja kalau mau. Rumah tangga, sekolah, dan lingkungan masyarakat adalah madrasah. Bersama-sama bisa, itu kalau mau. Kalau tidak, mari kita hanyut serantau.

Bersama kita bisa. Tapi begitu dilarang anak orang, bapak mandehnya marah pada kita. Maka, karena kita mengaku atau diakui sebagai negeri beradat, tentu dengan itu dijaga anak kemenakan kita. Itu artinya kembali ke mamak, ke pasukuan, ke nagari. Kembali pada ilmu, pada adab.

Inilah yang saya sebut tadi sudah seperti rambai dihampehan. Apa bisa diperbaiki? Bisalah, kenapa tidak. Untuk menolak tol, para pemangku bisa bersatu. Untuk moral, kenapa tidak. Cobalah… (*)

Reses di Sawah Rimbo, Rusdi Saleh: Aspirasi Warga Tak Boleh Hanya Jadi Catatan, Harus Ada Tindak Lanjut    
Senin, Agustus 24, 2026

On Senin, Agustus 24, 2026

Reses di Sawah Rimbo, Rusdi Saleh: Aspirasi Warga Tak Boleh Hanya Jadi Catatan, Harus Ada Tindak Lanjut
Suasana di lingkungan Sawah Rimbo, Kelurahan Tanah Garam, berubah menjadi ruang dialog hangat antara wakil rakyat dan konstituennya, Minggu (23/8/2026). (Foto: Diskominfo).

BENTENGSUMBAR.COM
- Suasana di lingkungan Sawah Rimbo, Kelurahan Tanah Garam, berubah menjadi ruang dialog hangat antara wakil rakyat dan konstituennya, Minggu (23/8/2026). 

Anggota DPRD Kota Solok dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Rusdi Saleh, turun langsung ke daerah pemilihan (Dapil) Lubuk Sikarah dalam rangka Reses Masa Sidang II Tahun 2026, menyerap berbagai kebutuhan mendesak masyarakat.

Reses bukan sekadar acara tatap muka — warga dengan bebas menyampaikan langsung persoalan yang mereka hadapi. Beragam aspirasi mengalir: mulai dari kebutuhan program bedah rumah, perbaikan dan peningkatan kualitas jalan, beasiswa pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. 

Rusdi Saleh membuka ruang dialog secara terbuka, mendengarkan dengan saksama setiap keluhan dan harapan warga. 

Ia menegaskan bahwa semua usulan tidak boleh berhenti sebagai catatan semata, melainkan harus diperjuangkan dan dikawal hingga mendapatkan tindak lanjut.

Anggota DPRD Kota Solok Fraksi PAN, juga Sekretaris PAN Kota Solok dan anggota Komisi I DPRD Kota Solok, Rusdi Saleh, serta tokoh masyarakat dan warga Dapil Lubuk Sikarah, khususnya wilayah Kelurahan Tanah Garam dan sekitarnya.

Minggu, 23 Agustus 2026, bertempat di Sawah Rimbo, Kelurahan Tanah Garam, wilayah Dapil Lubuk Sikarah, Kota Solok.

"Terima kasih kepada seluruh warga yang telah hadir dan menyampaikan aspirasinya. Ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap pembangunan di wilayah kita. Semua aspirasi yang disampaikan akan kami tampung dan terus kami kawal, baik melalui DPRD maupun kepada pemerintah," ujar Rusdi Saleh.

Ia menegaskan reses tidak boleh sekadar kegiatan mendengar dan mencatat. Setiap usulan akan diperjuangkan melalui mekanisme yang berlaku, termasuk berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Solok agar dapat dipertimbangkan dalam program pembangunan sesuai skala prioritas dan kemampuan keuangan daerah.

"Reses ini adalah kesempatan bagi kami untuk mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Aspirasi yang masuk akan kami catat, kami perjuangkan, dan kami kawal agar mendapatkan tindak lanjut," tegasnya.

Bagi Rusdi Saleh, pembangunan yang baik harus berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan. Komunikasi yang terus terjalin antara warga, DPRD, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar kebijakan yang dihasilkan tepat sasaran, tidak jauh dari persoalan yang sebenarnya terjadi.

"Harapan kita, aspirasi masyarakat tidak berhenti sebagai catatan. Kita ingin ada proses lanjutan sehingga kebutuhan yang memang menjadi prioritas dapat diperjuangkan melalui jalur yang tersedia," tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Rusdi Saleh berkomitmen terus membuka ruang komunikasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat, demi pembangunan Kota Solok yang lebih merata, berkeadilan, dan benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat.(80)

SIG Catat Pertumbuhan Laba Tertinggi BUMN, Prabowo Sebut Hasil Pembenahan Mulai Terlihat    
Senin, Agustus 24, 2026

On Senin, Agustus 24, 2026

SIG Catat Pertumbuhan Laba Tertinggi BUMN, Prabowo Sebut Hasil Pembenahan Mulai Terlihat
Presiden Prabowo Subianto memberikan apresiasi kepada sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) atas capaian kinerja yang meningkat signifikan pada Semester I 2026. (Foto: Diskominfo).

BENTENGSUMBAR.COM
- Presiden Prabowo Subianto memberikan apresiasi kepada sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) atas capaian kinerja yang meningkat signifikan pada Semester I 2026.

Salah satu perusahaan yang mendapat sorotan adalah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) yang mencatat lonjakan laba bersih tertinggi di antara BUMN lainnya.

Berdasarkan data yang diunggah akun Instagram @fyifact pada (16/8/2026), laba bersih SIG pada Semester I 2026 naik 408,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. 

Capaian tersebut menjadi yang tertinggi di antara sejumlah BUMN yang mengalami pertumbuhan laba pada enam bulan pertama tahun ini.

Selain SIG, PT Pupuk Indonesia mencatat kenaikan laba bersih sebesar 252,8 persen. PT Pertamina tumbuh 86 persen, PT Pegadaian 84,4 persen, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) 60,4 persen, serta PT Perkebunan Nusantara sebesar 54,4 persen.

Dalam Sidang Tahunan MPR, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan pembenahan BUMN secara besar-besaran. 

Menurutnya, hasil transformasi tersebut mulai terlihat dari peningkatan kinerja sejumlah perusahaan pelat merah pada Semester I 2026.

“Pembenahan BUMN kita lakukan besar-besaran. Di enam bulan pertama tahun 2026 ini, untung bersih PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) naik 408,9 persen,” ujar Prabowo dalam pidatonya.

Prabowo menilai peningkatan kinerja tersebut menunjukkan efektivitas langkah transformasi yang dijalankan pemerintah dalam memperkuat daya saing dan tata kelola BUMN.

Transformasi dan pembenahan yang dijalankan Danantara juga dinilai menjadi salah satu motor penggerak peningkatan kinerja BUMN. 

Dukungan dan supervisi yang diberikan lembaga tersebut disebut berperan dalam memperkuat langkah transformasi perusahaan-perusahaan pelat merah, termasuk SIG.

Menanggapi apresiasi tersebut, Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra, menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas pengakuan terhadap kinerja perusahaan. 

Ia juga mengapresiasi dukungan Danantara dalam memperkuat transformasi yang dijalankan SIG.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi motivasi bagi perusahaan untuk terus meningkatkan kinerja, memperkuat transformasi bisnis, serta memperbesar kontribusi terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan Presiden Prabowo. Dukungan Danantara juga menjadi bagian penting dalam memperkuat transformasi SIG sehingga menghasilkan kinerja yang membanggakan,” ujar Indrieffouny.

SIG menegaskan akan terus melanjutkan berbagai langkah transformasi guna menjaga pertumbuhan berkelanjutan dan memperkuat peran perusahaan dalam mendukung pembangunan nasional. (*)

Jelang Muktamar NU ke-35: Menerka Peluang Gus Kikin    
Senin, Agustus 24, 2026

On Senin, Agustus 24, 2026

Jelang Muktamar NU ke-35: Menerka Peluang Gus Kikin
Khusus KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), cicit pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. (Foto: Armaidi).

OLEH
: Armaidi Tanjung (Korwil Gus Kikin dari Sumatera Barat) 

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tinggal menghitung hari. 

Selain Panitia Muktamar NU ke-35 yang semakin sibuk, juga masing-masing kandidat bersama Tim semakin sibuk bagaimana mendapatkan dukungan suara dari PWNU/PCNU se-Indonesia.

Sepertinya sudah menjadi tradisi di setiap kali Muktamar NU,  selalu muncul “geger” mengenai siapa yang bakal memimpin organisasi terbesar di Indonesia untuk lima tahun ke depan. 

Baik ketika calon kuat hanya dua orang maupun ketika jumlahnya lebih dari dua, dinamika perebutan kursi Ketua Umum PBNU selalu menarik perhatian. 

Jika calon kuat hanya dua orang, “geger”-nya mungkin tidak terlalu kuat dibandingkan ketika kandidat yang muncul lebih banyak.

Salah seorang kandidat Ketua Umum PBNU lima tahun mendatang adalah KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). 

Selain itu, juga muncul nama-nama lain seperti KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) petahana yang kini menjabat Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, Prof. KH Nasaruddin Umar, KH Imam Jazuli, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan KH Abdussalam Shohib (Gus Salam).

Masing-masing nama tersebut tentu memiliki kapasitas, pengalaman, latar belakang, dan rekam jejak ke-NU-an yang tidak perlu diragukan. 

Mereka adalah tokoh-tokoh NU yang sudah tidak asing lagi, baik di lingkungan internal NU maupun di luar NU. 

Masing-masing memiliki kelebihan dan kemampuan untuk memimpin serta membawa NU melangkah lima tahun ke depan.

Khusus KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), cicit pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Ia lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’shum. 

Dari garis ibunya, nasabnya tersambung kepada Nyai Khoiriyah Hasyim, putri sulung KH Hasyim Asy’ari yang menikah dengan KH Ma’shum Ali, ulama ahli falak sekaligus penulis kitab Amtsilah Tasrifiyah. 

Sementara dari garis ayah, nasabnya tersambung kepada KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang. 

Gus Kikin merupakan Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024–2029. 

Ia terpilih secara aklamasi dalam Konferwil NU Jawa Timur pada 3 Agustus 2024. 

Peluang

Masing-masing calon tentu telah menyusun strategi dan membangun komunikasi untuk meraih dukungan sebanyak-banyaknya dari PCNU, PCINU, dan PWNU se-Indonesia. 

Beragam cara, strategi, pertemuan, dan kegiatan dilakukan oleh masing-masing kandidat. 

Karena itu, menarik untuk membaca peluang masing-masing kandidat menjelang Muktamar ke-35 NU.

Nama Gus Kikin mulai mencuat beberapa bulan belakangan menjelang Muktamar. 

Tidak seperti nama lain yang sudah muncul jauh-jauh hari menjelang Muktamar NU ke-35 bakal  digelar.

Gus Kikin sendiri tidak mau mencari jabatan Ketua Umum, apalagi jabatan di organisasi Islam  terbesar di Indonesia. 

Gus Kikin tidak meminta dirinya untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU.

Kemudian dirinya diminta untuk maju calon Ketua Umum PBNU oleh kiai-kiai yang ingin melihat perubahan terjadi di jajaran PBNU.

Bagi Gus Kikin karena ini diminta, bukan meminta, maka sebuah amanah organisasi yang harus diterima dan dijalankan. 

Sebagai warga nahdliyin, keturunan pendiri Nahdlatul Ulama, tentu bagi Gus Kikin ini panggilan yang harus terima dan mewujudkan cita-cita Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari yang mendirikan NU.

Dengan mengusung Qanun Asasi, Gus Kikin ingin mengembalikan prinsip-prinsip mendasar NU yang sudah ditulis Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari. 

Bagaimana fondasi NU yang ditulis, dilaksanakan dan dipikirkan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari kembali dihidupkan Gus Kikin. 

Apalagi memasuki abad ke-2 NU, tentu sangat tepat mengingatkan kembali sejarah pendirian NU, sejarah yang menjadi fondasi dalam menggerakkan NU ke depannya. 

Qanun Asasi yang sudah ditulis berpuluh tahun lalu, kemudian tercecer-cecer. 

Sekarang sudah berhasil dikumpulkan Gus Kikin menjadi lebih lengkap sebagai panduan menjalankan roda organisasi NU ke depannya. 

Gus Kikin dengan kikih dan kemana-mana mensosialisasi prinsip-prinsip yang terkandung dalam Qanun Asasi tersebut. 

Salah satu yang turut juga mensosialisasikan tersebut adalah   melalui Pesantren Tebuireng bersama Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) dengan menggelar Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung MPR RI, Jakarta, Sabtu (8/8/2026). 

Tampil sebagai keynote speaker Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani, sementara KH Ma’ruf Amin (Wapres RI 2019-2024) turut hadir sebagai pembicara.

Dipilihnya Gedung MPR RI sebagai tempat kegiatan tentu memiliki makna tersendiri. 

Gedung tersebut merupakan simbol lembaga permusyawaratan dan kehidupan kebangsaan Indonesia. 

Kehadiran Ketua MPR RI dan tokoh nasional seperti KH Ma’ruf Amin juga memberikan bobot tersendiri terhadap kegiatan yang digagas oleh Pesantren Tebuireng dan IKAPETE.

Gus Kikin sendiri menyampaikan pemikiran-pemikirannya terkait Al-Qanun Al-Asasi NU. 

Sebelum memasuki ruang sidang MPR RI, peserta mendapatkan buku yang ditulis Gus Kikin berjudul Syarah Kitab Al-Qanun Al-Asasi, Syarah Kitab Al-Qanun Al-Asasi Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, diterbitkan Pustaka Tebuireng, setebal xvii + 214 halaman, cetakan pertama tahun 2026.

Buku tersebut menguraikan secara rinci Al-Qanun Al-Asasi, yang menjadi salah satu landasan pemikiran penting dalam perjalanan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama sebagaimana dirumuskan oleh pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.

Gus Kikin yang tampil pada awal Halaqah Kebangsaan menguraikan pemikiran-pemikirannya mengenai arah pengembangan NU ke depan.

Ia seakan ingin menghadirkan kembali semangat Al-Qanun Al-Asasi sebagai landasan dalam menggerakkan NU memasuki abad keduanya.

Penulis yang hadir pada Halaqah Kebangsaan yang diselenggarakan Sabtu, 8 Agustus 2026, mendengar Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani menegaskan bahwa Qanun Asasi yang disusun Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menempatkan NU bukan sebagai musuh atau ancaman bagi keutuhan bangsa.

Sebaliknya, NU harus menjadi solusi bagi problematika umat, menjadi kekuatan yang menjaga persatuan, serta mampu merangkul berbagai kelompok masyarakat.

Semangat tersebut pula yang kemudian mendorong para santri pada masa perjuangan kemerdekaan untuk bergabung dalam berbagai laskar perjuangan, termasuk Hizbullah dan Sabilillah.

Bergabung dalam barisan perjuangan tersebut merupakan bagian dari keyakinan untuk membela negara.

Ahmad Muzani juga menceritakan dinamika perjuangan bangsa pada masa pendudukan Jepang. Banyak santri kemudian bergabung dalam berbagai organisasi dan laskar perjuangan. 

Di antara tokoh yang disebut adalah KH Yusuf Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari. 

Semangat membela negara dan merebut kemerdekaan menjadi bagian penting dari perjuangan tersebut.

Selain itu, KH Hasyim Asy’ari menyadari bahwa perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditempuh melalui kekuatan bersenjata, tetapi juga membutuhkan perjuangan politik.

Kecintaan terhadap tanah air kemudian menjadi bagian penting yang melekat dalam gerakan NU.

“Dengan demikian, Qanun Asasi ini adalah semangat filosofi yang hidup sepanjang zaman. Indonesia beruntung ada Nahdlatul Ulama. Indonesia beruntung karena ada Qanun Asasi,” tutur Ahmad Muzani.

Sementara itu, KH Ma’ruf Amin menyampaikan rasa syukurnya dapat hadir dalam Halaqah Kebangsaan tersebut. 

Sebagai alumni Pesantren Tebuireng, kehadirannya menjadi bagian dari penghormatan terhadap tradisi keilmuan dan perjuangan pesantren.

Menurut Ma’ruf Amin, peran NU dalam moderasi beragama, kebangsaan, dan keumatan memiliki akar kuat dalam pemikiran KH Hasyim Asy’ari. 

Dalam Muqaddimah Qanun Asasi, NU ditegaskan sebagai organisasi yang memperjuangkan keadilan, menebarkan keamanan, melakukan berbagai perbaikan, dan membawa kebaikan.

Karena itu, NU bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi memiliki gerakan besar yang menyentuh berbagai aspek kehidupan: agama, kemasyarakatan, ekonomi, politik, pendidikan, sosial, dan budaya.

Dalam konteks keumatan, NU memiliki dua tugas besar yang perlu terus dijalankan, yaitu himayatul ummah atau menjaga umat dan taqwiyatul ummah atau memperkuat umat.

Dalam dimensi kebangsaan, menanamkan kecintaan terhadap tanah air telah menjadi bagian penting dari tradisi perjuangan NU.

Semangat Yalal Wathan dan konsep hubbul wathan minal iman menjadi bagian dari khazanah perjuangan tersebut. 

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 juga menjadi salah satu momentum penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Gus Kikin, dengan mengusung dan mensosialisasikan Qanun Asasi dalam berbagai momentum NU di berbagai tingkatan, menunjukkan perhatian kuat terhadap akar sejarah dan nilai dasar organisasi.

Gagasan tersebut dapat dibaca sebagai upaya untuk menguatkan kembali NU agar tetap berpijak pada khittah dan nilai-nilai dasar yang diwariskan para pendirinya.

NU yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa Indonesia, dan umat manusia menjadi tantangan besar ketika organisasi ini memasuki abad kedua. 

Dalam konteks inilah, sosok pemimpin dengan latar belakang pesantren, pengalaman organisasi, kemampuan membangun komunikasi kebangsaan, dan kedekatan dengan berbagai kalangan menjadi penting untuk diperhitungkan.

Gus Kikin memiliki sejumlah modal tersebut. Sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029, ia memiliki basis pesantren sekaligus pengalaman memimpin organisasi NU di tingkat wilayah.

Dengan mengusung Qanun Asasi, terlihat bagaimana Gus Kikin ingin mewujudkan NU lebih fokus pada tujuan sosial kemasyarakatan, pendidikan, perbaikan kehidupan umat yang lebih sejahtera, bukan menyeret NU ke ranah kepentingan politik praktis dan kekuasaan kelompok tertentu. 

Sehingga semakin dekat pelaksanaan Muktamar NU ke-35, berbagai kekuatan personal NU yang sebelumnya mendukung Gus Yahya di Muktamar NU ke-34 Lampung, kini mulai beralih ke Gus Kikin. 

Tentu dukungan yang terus mengalir ke Gus Kikin semakin memperkuat Gus Kikin dengan timnya untuk  mengantarkannya menjadi Ketua Umum PBNU.

Pengalaman beberapa Muktamar NU, jika pendukung “piawai” sudah bergabung, sudah pertanda kemenangan berada di kandidat tersebut.

Gus Kikin ternyata sudah mendapatkan dukungan dari pendukung “piawai” muktamar NU tersebut. 

Tinggal kita menjalani dan menyaksikan dengan tersenyum-senyum Muktamar NU ke-35. 

Tidak perlu ribut, gaduh, dan terjadi gesekan-gesekan di sana-sini.

Bukankah kita sama-sama warga nahdiyyin.  Selamat bermuktamar. (*)

Kejadian di Jorong Sungai Tanang, HB Diduga Tega Bunuh Ibu dan Nenek Kandungnya, Simak Penjelasan Polisi    
Senin, Agustus 24, 2026

On Senin, Agustus 24, 2026

Kejadian di Jorong Sungai Tanang, HB Diduga Tega Bunuh Ibu dan Nenek Kandungnya, Simak Penjelasan Polisi
Kepolisian Resor (Polres) Pasaman Barat adakan konferensi pers terkait dugaan kasus pembunuhan nenek (RH) dan IBU (HP) di Jorong Sungai Tanang. (Foto: Rido).

BENTENGSUMBAR.COM
- Kepolisian Resor (Polres) Pasaman Barat adakan konferensi pers terkait dugaan kasus pembunuhan nenek (RH) dan IBU (HP) di Jorong Sungai Tanang, Nagari Sungai Aur, Kecamatan Sungai Aur,  Kabupaten Pasaman Barat beberapa waktu lalu.

Tersangka berinisial HB (32) tega membunuh Ibu kandungnya HP dan RH yang juga merupakan nenek kandung nya dengan menggunakan kayu balok bulat pada bagian kepala sebanyak 3 (tiga) kali.

"Pelaku dan korban adalah anak, ibu dan nenek kandung, pelaku sudah kita amankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut," ujar Kapolres Pasaman Barat, AKBP. Agung Tribawanto kepada wartawan di Aula Tatag Trawang Tunggga, Polres Pasaman Barat, Senin, 24 Agustus 2026.

Kapolres menjelaskan, kronologi kejadian Berawal dari tersangka HB didatangi mimpi-mimpi yang membuat badannya tersasa sakit sehingga ada dorongan dari dalam dirinya untuk menyakiti ibunya.

Sehingga pada hari Senin tanggal 10 agustus 2026 sekira pukul 19.30 Wib, tersangka dari rumahnya menuju rumah neneknya RH yang berjarak sekitar 30 (tiga puluh) meter dari rumahnya.

"Dari keterangan pelaku, saat sampai di rumah, pelaku melihat ibunya HP dan neneknya R sudah menyelesaikan sholat isya, lalu tiba pelaku merasakan sesak di dadanya, dan ada dorongan dari dalam dirinya untuk menyakiti ibunya, kemudian tersangka mengambil sebatang kayu bulat keras dan padat dari dapur rumah Nenenknya tersebut," ucapnya.

Agung Basuki melanjutkan, setelah kayu tersebut berada ditangan tersangka, kemudian tersangka pergi ke ruang tengah dan langsung memukul kepala ibunya sebanyak 3 (tiga) kali sehingga ibunya tersebut jatuh ketanah, dan pada saat itu nenek nya juga datang dan pelaku pun juga memukul nenek nya di bagian kepala.

Setelah melakukan pemukulan, saat itu tersangka melihat korban HP dan R tergeletak dilantai rumah dengan bersimbah darah. Pelaku duduk disamping tubuh Ibu dan Neneknya tersebut yang sudah tidak bergerak.

"Setelah di pukul oleh pelaku, kedua korban tergeletak di tanah dengan bersimbah darah, melihat itu pelaku ketakutan hingga melarikan diri ke arah Ujung Gading," katanya.

Menindaklanjuti peristiwa tersebut, Kapolres Pasaman Barat,AKBP. AGUNG TRIBAWANTO melalui Kasat Reskrim IPTU A.AGUNG NGURAH SANTA SUBRATA segera melakukan konsolidasi terhadap Personil Sat Reskrim dalam pelaksanaan kegiatan penyelidikan dan penyidikan dalam rangka pembuktian dan pengungkapan Tersangka.

Pelaku berhasil ditangkap di sebuah rumah di Jorong Situak Nagari Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat selanjutnya dibawa ke Polres Pasaman Barat guna proses lebih lanjut.

"Pelaku sudah kita berhasil kita amankan dan sudah dilakukan penahanan di sel Polres Pasaman Barat, tindakan pelaku di jerat dengan PASAL berlapis 458 Ayat (1) dan ayat (2) jo Pasal 466 Ayat (1) dan Ayat (3) tentang pembunuhan dan penganiayaan dengan ancaman lebih dari 20 tahun penjara," pungkas Kapolres mengakhiri. (*)

Pewarta: Rido

Pelantikan PWI Padang Panjang: Wali Kota Hendri Anis Minta Perkuat Sinergi & Edukasi Publik, Kapolres Janji Keterbukaan Informasi    
Senin, Agustus 24, 2026

On Senin, Agustus 24, 2026

Pelantikan PWI Padang Panjang: Wali Kota Hendri Anis Minta Perkuat Sinergi & Edukasi Publik, Kapolres Janji Keterbukaan Informasi
Pelantikan pengurus baru Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Padang Panjang berjalan damai dan penuh semangat kebersamaan, Senin (24/8/2026). (Foto: Diskominfo).

BENTENGSUMBAR.COM
- Pelantikan pengurus baru Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Padang Panjang berjalan damai dan penuh semangat kebersamaan, Senin (24/8/2026). 

Transisi kepemimpinan dari Ketua PWI periode lama, Datuk Penghulu Asril, kepada ketua baru, Bento, dinilai berjalan mulus tanpa perpecahan. 

Wali Kota Padang Panjang Hendri Anis memberikan arahan agar pengurus baru segera berkonsolidasi, melibatkan tokoh lama sebagai penasihat, dan berperan meluruskan isu investasi yang kerap dipelintir. 

Sementara itu, Kapolres Padang Panjang AKBP Wisnu Hadi menegaskan komitmen keterbukaan informasi dan kerja sama yang erat dengan media.

Pelantikan ketua baru Bento beserta jajaran pengurus PWI Padang Panjang berlangsung penuh kehangatan. 

Wali Kota Hendri Anis memuji transisi kepemimpinan yang berjalan lancar tanpa perpecahan.

Kepada ketua baru yang berusia muda, ia meminta segera memperkuat konsolidasi internal organisasi dan melibatkan tokoh-tokoh lama sebagai penasihat agar menjadi penimbang kebijakan.

Secara khusus, Wali Kota menyoroti isu investasi yang kerap digiring seolah-olah pemerintah tidak ramah investasi.

"Kita tidak melarang investasi, kita mendukung investasi, tetapi investasi itu tentu harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tegasnya. 

Wartawan dinilai memiliki peran strategis untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar memahami bahwa rambu-rambu perizinan dan peruntukan lokasi bukan penghalang, melainkan koridor yang harus dipenuhi demi kepentingan bersama.

Kapolres Padang Panjang AKBP Wisnu Hadi juga menyampaikan harapan agar komunikasi dan kerja sama antara kepolisian dan PWI semakin erat dan terbuka. 

Setiap hal yang perlu didiskusikan dapat dilakukan melalui pertemuan tatap muka langsung.

Tersampaikan pula adanya surat dari CBI untuk audiensi yang waktunya akan diatur, kemungkinan pada minggu ini atau paling lambat minggu depan. 

Ketua PWI Kota Solok, Raunis Roni, turut menyampaikan ucapan selamat dan harapan agar kepengurusan baru semakin solid dan jaya.

Wali Kota Padang Panjang Hendri Anis, Kapolres Padang Panjang AKBP Wisnu Hadi, para Datuk, Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai, Bundo Kanduang, Ketua PWI periode lama Datuk Penghulu Asril, Ketua baru Bento beserta jajaran pengurus termasuk Paul, Ketua PWI Kota Solok Raunis Roni, unsur Pemerintah Daerah, serta rekan-rekan wartawan PWI Padang Panjang.

Kota tidak bisa berkembang sendiri — wartawan memiliki peran strategis untuk mengeksplorasi prestasi pembangunan sekaligus saling mengingatkan pemerintah daerah agar tetap pada jalurnya. Berbeda dengan instansi yang kewenangannya terbatas, media memiliki keleluasaan untuk menyampaikan edukasi publik.

"Kita tidak alergi dengan investasi, tetapi berinvestasilah dengan jalannya koridornya," pesan Wali Kota menjadi inti arahan.

Pembiaran terhadap hal-hal yang tidak sesuai aturan pada periode sebelumnya harus dihentikan, dan semua pihak diminta berjalan sesuai ketentuan tanpa kompromi.

Sementara itu, keterbukaan informasi menjadi kunci kepercayaan publik terhadap kepolisian. 

Sinergi antara Polres Padang Panjang dan PWI diharapkan menciptakan pemahaman yang lebih baik antara kepolisian, media, dan masyarakat. 

Kepada pengurus baru, arahannya jelas: perkuat organisasi, manfaatkan pengalaman tokoh lama, dan jadikan jurnalisme sebagai kekuatan edukasi publik — agar kemajuan investasi dan kepatuhan terhadap aturan berjalan beriringan demi kemajuan Kota Padang Panjang.

Ketua PWI Kota Solok, Raunis Roni, turut mengucapkan: "Selamat atas pelantikan dan amanah jabatan baru yang telah diterima. Semoga dapat menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan dedikasi demi kemajuan bersama."(80)