HEADLINE
Braditi Moulevey Rajo Mudo Tanggapi Pernyataan Menko Polkam Djamari Chaniago soal Penolakan Gelar Datuk    
Kamis, Maret 12, 2026

On Kamis, Maret 12, 2026

Braditi Moulevey Rajo Mudo Tanggapi Pernyataan Menko Polkam Djamari Chaniago soal Penolakan Gelar Datuk
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM), Braditi Moulevey Rajo Mudo.

BENTENGSUMBAR.COM
- Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago mengenai penolakannya terhadap gelar adat Minangkabau memicu respons dari berbagai kalangan.

Salah satu tanggapan datang dari tokoh Perantau Minang sekaligus Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM), Braditi Moulevey Rajo Mudo.

Ia menilai pernyataan yang disampaikan Djamari dalam forum pendidikan di Sespim Lemdiklat Polri perlu dipahami secara proporsional agar tidak menimbulkan kesan seolah-olah seluruh masyarakat Minangkabau terlibat dalam persoalan tersebut.

Menurutnya, sebagai bagian dari masyarakat Minang, dirinya tidak pernah merasa ataupun berpikir untuk memberikan gelar adat kepada Djamari Chaniago.

“Saya sebagai salah satu orang Minang tidak merasa dan tidak terfikirkan akan memberi gelar adat kepada bapak tersebut,” katanya, Kamis (12/3/2026).

Ia juga mengaku menyayangkan pernyataan Djamari yang meminta agar pesan penolakannya disampaikan kepada orang Minang secara umum.

“Saya sangat menyayangkan statement Pak Djamari Chaniago yang menyebut ‘Sampaikan ke orang minang, saya tidak bersedia’,” kata Braditi.

Menurut Braditi, penolakan terhadap gelar adat merupakan hak pribadi setiap orang. Namun penyampaiannya seharusnya ditujukan kepada pihak yang menawarkan atau mengusulkan, bukan kepada seluruh masyarakat Minangkabau.

Braditi menegaskan bahwa dirinya juga merupakan orang Minang dan tidak pernah meminta Djamari untuk diangkat sebagai datuak.

“Saya juga orang Minang. Saya dan masyarakat Minang yang lain tidak pernah meminta dia menjadi Datuak,” ungkapnya.

Dalam tradisi Minangkabau, katanya, pemberian gelar adat biasanya berasal dari lingkungan keluarga atau kaum dalam struktur kekerabatan adat.

Oleh karena itu, menurutnya, jika memang ada pihak yang menawarkan gelar tersebut, maka komunikasi seharusnya berlangsung di dalam lingkup keluarga atau kaum.

“Bapak itu kan juga orang Minang. Seharusnya yang meminta itu anak keponakan dia, jika dia menolak, tolak juga melalui anak keponakannya. Bukan ke seluruh orang Minang,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Levi itu juga menilai penyampaian penolakan yang diarahkan kepada masyarakat Minang secara luas justru berpotensi menimbulkan persepsi yang keliru.

“Harusnya ke ke oknum yang meminta itu saja, bukan ke seluruh orang Minang,” katanya.

Ia juga menyoroti konteks penyampaian pernyataan tersebut yang dilakukan dalam forum aparat penegak hukum yang tengah menjalani pendidikan.

Menurutnya, forum tersebut memiliki audiens yang luas sehingga pesan yang menyasar seluruh masyarakat Minangkabau dapat menimbulkan kesan yang tidak tepat.

“Harusnya ke ke oknum yang meminta itu saja, bukan ke seluruh orang Minang, apalagi itu disampaikan di depan forum aparat penegak hukum yang tengah menempuh pendidikan, calon jenderal,” ujarnya.

Sebelumnya, Djamari Chaniago menyampaikan kritik terhadap praktik pemberian gelar datuak di Sumatera Barat yang dinilai dilakukan secara sembarangan oleh sebagian ketua adat.

Kritik tersebut disampaikan ketika ia memberikan arahan kepada peserta pendidikan di Sespim Lemdiklat Polri pada Senin (9/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Djamari sempat menyapa peserta yang berasal dari Sumatera Barat sebelum menyampaikan pengalamannya.

“Ada orang Padang? Angkat tangan, orang Minang? Coba berdiri. Oke terima kasih,” kata Djamari saat memulai pemaparannya.

Ia kemudian menceritakan pengalaman ketika didatangi seorang ketua adat yang menawarkan dirinya untuk diangkat sebagai datuak setelah ia menjabat sebagai Menko Polkam.

Menurut Djamari, tawaran tersebut datang secara tiba-tiba meskipun sebelumnya mereka tidak pernah saling mengenal.

“Tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu datang begitu. Sebelum-sebelumnya mereka tidak kenal saya. Celakanya begitu, tidak kenal,” ujar Djamari.

Ia pun mempertanyakan mengapa dirinya baru dianggap sebagai bagian dari masyarakat Minangkabau setelah menjabat sebagai pejabat negara.

“Begitu jadi Menko Polkam, oh saya jadi orang Minang. Baru sekarang toh? Sekarang saya bilang?” kata Djamari.

Ia menegaskan bahwa identitas Minangkabau telah melekat sejak lama dalam dirinya.

“Saya orang Minang dari dulu. Saya pasang nama Chaniago sejak taruna saya pasang. Kenapa baru sekarang orang Minang kenal saya,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Djamari juga menyinggung kasus mantan Kapolda Sumatera Barat, Teddy Minahasa, yang pernah diberi gelar datuak sebelum akhirnya tersandung perkara narkoba.

“Anda tahu enggak bahwa anda pernah salah besar dalam memilih seorang datuk. Kenapa salah? Karena melantik seorang jenderal datuk dan dia adalah biang kerok narkoba,” ujar Djamari.

Ia mempertanyakan proses pemberian gelar tersebut yang dinilai tidak mempertimbangkan latar belakang orang yang diberi kehormatan adat.

“Di mana ceritanya anda bisa melantik seseorang tanpa mengetahui latar belakang dia, dilantik jadi datuk. Bukankah anda sendiri yang menghancurkan adat itu?” kata Djamari.

Menanggapi hal itu, Braditi Moulevey Rajo Mudo memberikan penjelasan bahwa gelar yang diberikan kepada Teddy Minahasa tidak dapat disamakan dengan gelar adat dalam struktur adat Minangkabau.

Menurutnya, gelar yang dimaksud merupakan gelar kehormatan, bukan gelar adat yang berasal dari garis keturunan kaum atau suku.

Braditi menegaskan bahwa keduanya memiliki makna dan mekanisme yang berbeda dalam tradisi Minangkabau.

Ia menyebutkan bahwa gelar adat memiliki proses panjang yang berkaitan dengan struktur kekerabatan dalam suatu kaum, sementara gelar kehormatan biasanya diberikan sebagai bentuk penghargaan.

Karena itu, menurut Braditi, penyebutan kasus tersebut dalam konteks kritik terhadap gelar adat perlu dipahami secara lebih tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terhadap tradisi Minangkabau.

Dalam kesempatan tersebut, Djamari juga menegaskan penolakannya terhadap tawaran gelar tersebut.

“Sampaikan kepada orang Minang, saya tidak bersedia jadi datuk,” tegasnya.

Ia juga menilai kesalahan yang pernah terjadi seharusnya menjadi pelajaran agar tidak terulang kembali di masa depan.

“Saya berjuang setengah mati demi kepentingan bangsa, tapi dia yang menghancurkan negeri. Berbeda sangat,” ujarnya.

Selain kepada ketua adat, Djamari juga mengaku pernah menyampaikan kritik serupa kepada kalangan akademisi di Universitas Andalas.

Menurutnya, para dosen dan guru besar juga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan praktik yang dianggap keliru terjadi di tengah masyarakat.

“Saya katakan semuanya. Jangan merasa tidak bersalah dengan kejadian kemarin itu. Kalian juga salah, kenapa kalian diam saja melihat itu,” kata Djamari.

Ia menekankan bahwa setiap elemen masyarakat harus memiliki kepedulian dalam menjaga nilai integritas.

“Nah, saya ingin menggambarkan bahwa sekecil apa pun terlibat di masyarakat kita harus peduli,” pungkasnya.

Bagi Braditi Moulevey Rajo Mudo, kritik terhadap praktik adat tentu dapat disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap nilai-nilai Minangkabau.

Namun ia berharap penyampaiannya dilakukan secara proporsional dan tidak menyamaratakan masyarakat Minang secara keseluruhan. (*)

Wartawan Sawahlunto Berbagi Takjil Ramadhan 1447 H, Wujud Kepedulian untuk Sesama    
Kamis, Maret 12, 2026

On Kamis, Maret 12, 2026

Wartawan Sawahlunto Berbagi Takjil Ramadhan 1447 H, Wujud Kepedulian untuk Sesama
Para jurnalis turun langsung ke jalan membagikan ratusan paket takjil. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Semangat berbagi di bulan suci Ramadhan kembali ditunjukkan oleh para wartawan yang bertugas di Kota Sawahlunto. Melalui kegiatan sosial berbagi takjil kepada masyarakat, para jurnalis turun langsung ke jalan membagikan ratusan paket takjil kepada para pengguna jalan dan warga yang melintas di depan Bank Mandiri Sawahlunto, Rabu 11 Maret 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan pada momentum Ramadhan 1447 Hijriah tersebut menjadi bentuk kepedulian insan pers terhadap masyarakat, khususnya bagi mereka yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka puasa tiba.

Para wartawan dari berbagai media yang tergabung dalam Komunitas Wartawan Peduli Sawahlunto tersebut terlihat antusias membagikan paket takjil kepada pengendara sepeda motor, mobil, hingga pejalan kaki. Suasana penuh keakraban dan kebersamaan pun terasa, ketika para jurnalis menyapa warga sambil menyerahkan paket berbuka puasa.

Ketua panitia kegiatan, Yanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial para wartawan kepada masyarakat sekaligus upaya mempererat hubungan antara insan pers dan warga.

“Kegiatan berbagi takjil ini merupakan wujud kepedulian kami kepada sesama, khususnya bagi masyarakat yang masih berada di perjalanan menjelang waktu berbuka puasa. Semoga apa yang kami berikan ini dapat bermanfaat dan menjadi ladang amal ibadah bagi kita semua,” ujar Yanto.

Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dapat terlaksana berkat dukungan dan partisipasi sejumlah pihak yang ikut berkontribusi sebagai donatur.

Beberapa pihak yang turut memberikan dukungan antara lain PT AIC, BAZNas, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Sawahlunto, Dinas Kebudayaan Kota Sawahlunto, serta sejumlah donatur lainnya yang memiliki kepedulian terhadap kegiatan sosial di bulan Ramadhan.

Yanto mengucapkan terima kasih atas dukungan para donatur yang telah membantu terselenggaranya kegiatan tersebut sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kegiatan berbagi takjil ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga mampu memperkuat semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat, khususnya pada momentum bulan suci Ramadhan yang penuh berkah. (*) 

Pewarta: marjafri

Sekda Sawahlunto Lantik Delapan Kepala SD Negeri, Tekankan Inovasi dan Kepemimpinan Pendidikan    
Kamis, Maret 12, 2026

On Kamis, Maret 12, 2026

Sekda Sawahlunto Lantik Delapan Kepala SD Negeri, Tekankan Inovasi dan Kepemimpinan Pendidikan
Pelantikan delapan Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri dilaksanakan di Aula Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto.

BENTENGSUMBAR.COM
- Wali Kota Sawahlunto yang diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Rovanly Abdams melantik delapan Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri di lingkungan Pemerintah Kota Sawahlunto. Pelantikan tersebut dilaksanakan di Aula Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto.

Para kepala sekolah yang dilantik berasal dari sejumlah sekolah dasar di berbagai wilayah, di antaranya SDN 11 Kampung Surian, SDN 07 Muaro Kalaban, SDN 06 Kubang Tangah, SDN 07 Talawi Hilie, serta SDN 12 Talawi Mudiak, bersama beberapa sekolah lainnya.

Dalam arahannya, Sekda Rovanly Abdams menegaskan bahwa kepala sekolah memiliki peran strategis sebagai pemimpin pendidikan di lingkungan sekolah. 

Menurutnya, kepala sekolah tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga harus mampu menggerakkan dan memotivasi para guru serta tenaga kependidikan dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi para siswa.

Sekda juga memaparkan bahwa kondisi anggaran daerah saat ini turut mempengaruhi berbagai kebijakan dan program pembangunan, termasuk di sektor pendidikan. 

Oleh karena itu, para kepala sekolah diharapkan mampu menghadirkan berbagai inovasi dalam pengelolaan sekolah, sekaligus mengoptimalkan potensi yang ada.

Lebih lanjut, Sekda meminta para kepala sekolah untuk mengarahkan majelis guru dan tenaga kependidikan agar bekerja lebih responsif dan adaptif terhadap kebutuhan siswa, serta mampu menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

Ia menegaskan bahwa berbagai kendala yang dihadapi di lapangan tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan semangat kerja. 

Sebaliknya, tantangan tersebut harus dimaknai sebagai peluang untuk belajar, berinovasi, serta memperkuat kapasitas kepemimpinan dalam mengelola sekolah secara lebih baik.

Melalui pelantikan tersebut, Pemerintah Kota Sawahlunto berharap para kepala sekolah yang baru dilantik dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, serta terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan di Kota Sawahlunto. (*) 

Pewarta: marjafri

Bukber Alumni SMAN 5 Padang, Tingkatkan Silaturrahmi    
Kamis, Maret 12, 2026

On Kamis, Maret 12, 2026

Bukber Alumni SMAN 5 Padang, Tingkatkan Silaturrahmi
Berbuka bersama (Bukber), Rabu (11/3/2026) malam di Rumah Makan Pondok Ikan Bakar Jalan Hamka Air Tawar Padang. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Alumni Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 5 Padang Angkatan 1988 adakan berbuka bersama (Bukber), Rabu (11/3/2026) malam di Rumah Makan Pondok Ikan Bakar Jalan Hamka Air Tawar Padang. 

Buka Bersama diawali dengan tausyiah agama Islam oleh Buya Dr. Japeri Jarab, Dosen UIN Imam Bonjol Padang.

Japeri Jarab mengapresiasi pertemuan Alumni SMAN 5 dengan berbuka bersama ini.

Artinya para alumni ini terus  mempererat silaturrahmi sesama alumni sekolah. 

Karena dengan terus menjaga silaturrahmi akan mendatangkan banyak manfaat kepada masing-masing alumni yang hadir tentunya.

Ketua Alumni SMAN 5 Padang Angkatan 1988 Syahril menambahkan, penyelenggaraan buka bersama ini berkat adanya rasa kebersamaan dan persaudaraan sesama alumni.

“Alhamdulillah, setiap tahun kita melaksanakan buka bersama. Alhamdulillah juga ini buka bersama termasuk banyak yang hadir. Lebih dari lima puluh orang yang hadir,” kata Syahril yang sehari-hari berprofesi guru di salah satu SMKN di Padang.

Pemandu acara sekaligus Sekretaris Alumni SMAN 5 Padang Firdaus menyampaikan terima kasih kepada alumni SMAN 5 Padang yang sudah hadir. 

Ini juga menunjukkan masih tingginya semangat kebersamaan sesama alumni, “Walaupun para alumni ini sudah hampir berusia 60-an tahun, tapi tetap ceria dan bersemangat mengikuti pertemuan alumni ini,” kata Firdaus.

Salah seorang Alumni SMAN 5 Padang Armaidi Tanjung menyebutkan, buka bersama ini selain menikmati hidangan berbuka, namun yang lebih penting itu adalah bertemu kembali dengan teman-teman sesama SMA yang sudah dilalui lebih dari 38 tahun lalu.

“Memang tidak bisa berkumpul semuanya lagi, karena ada diantara mereka yang sudah wafat, juga banyak di perantauan, selain ada juga yang berhalangan hadir. Yang jelas buka bersama ini kembali mempererat silaturrahmi sesama alumni,” tutur Armaidi. (R/*)

Pemko Payakumbuh Resmikan Masjid Ramah Pemudik 1447 Hijriah    
Kamis, Maret 12, 2026

On Kamis, Maret 12, 2026

Pemko Payakumbuh Resmikan Masjid Ramah Pemudik 1447 Hijriah
Masjid Ramah Pemudik 1447 Hijriah di Masjid Musafir, Kelurahan Kubu Gadang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Rabu (11/3/2026).

BENTENGSUMBAR.COM
- Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Devitra meresmikan Masjid Ramah Pemudik 1447 Hijriah di Masjid Musafir, Kelurahan Kubu Gadang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Rabu (11/3/2026).

Peresmian Masjid Ramah Pemudik ini dihadiri jamaah dan pengurus Masjid Musafir, Kepala Kementerian Agama Kota Payakumbuh, Hendri Yazid beserta jajaran, Camat Payakumbuh Barat, Lurah Kubu Gadang beserta jajaran Pemko Payakumbuh lainnya.

Dalam sambutannya, Devitra menyampaikan program Masjid Ramah Pemudik merupakan bentuk kepedulian pemerintah bersama pengurus masjid untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik. “Melalui program Masjid Ramah Pemudik ini, kita ingin memastikan para pemudik yang melintas di Kota Payakumbuh memiliki tempat yang nyaman untuk beristirahat, melaksanakan ibadah, serta memanfaatkan fasilitas yang tersedia di masjid,” ujar Devitra.

Ia juga menyinggung makna nama Masjid Musafir yang dinilai sangat relevan dengan program tersebut. “Nama Masjid Musafir ini memiliki makna yang sangat tepat. Musafir adalah orang yang sedang melakukan perjalanan. Maka masjid ini diharapkan benar-benar menjadi tempat singgah yang ramah dan memberi kenyamanan bagi para musafir yang melintas di Kota Payakumbuh,” imbuhnya.

Ia menambahkan, pada tahun 1447 Hijriah ini terdapat 18 masjid ramah pemudik di Kota Payakumbuh yang telah disiapkan dan seluruhnya berada di jalur jalan utama sehingga mudah dijangkau oleh para pemudik. “Semoga keberadaan masjid ramah pemudik ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus menunjukkan bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pelayanan umat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Kota Payakumbuh, Hendri Yazid, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya Kementerian Agama bersama pemerintah daerah dalam memakmurkan masjid sekaligus memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga bisa menjadi tempat singgah yang nyaman bagi para pemudik. Dengan adanya program Masjid Ramah Pemudik ini, kita berharap para pemudik dapat beristirahat dengan tenang serta tetap dapat melaksanakan ibadah selama perjalanan,” ungkap Hendri Yazid. Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah serta pengurus masjid yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan program tersebut.

Sementara itu, pengurus Masjid Musafir, Basri Latif, menyampaikan kesiapan pihaknya dalam mendukung program tersebut dengan menyediakan berbagai fasilitas bagi para pemudik. “Kami dari pengurus Masjid Musafir tentu menyambut baik program ini. Masjid kami siap menjadi tempat singgah bagi para pemudik, baik untuk beribadah, beristirahat sejenak, maupun memanfaatkan fasilitas yang tersedia,” kata Basri.  

Launching Masjid Ramah Pemudik 1447 Hijriah ini dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia, sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat selama musim mudik Lebaran.(HM)

Resmikan MDT Darussakinah di Padang, Gubernur Mahyeldi Tekankan Pentingnya Membangun Generasi Berakhlak    
Kamis, Maret 12, 2026

On Kamis, Maret 12, 2026

Resmikan MDT Darussakinah di Padang, Gubernur Mahyeldi Tekankan Pentingnya Membangun Generasi Berakhlak
Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Darussakinah di Komplek Perumahan Filano Jaya, Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakah. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah meresmikan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Darussakinah di Komplek Perumahan Filano Jaya, Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakah, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Kamis (12/3/2026). Peresmian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan keagamaan sekaligus membina generasi muda yang berakhlak mulia, beriman, dan bertakwa.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Mahyeldi menegaskan pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus diiringi dengan penguatan akhlak dan karakter generasi muda.

Menurutnya, keberadaan lembaga pendidikan keagamaan seperti Madrasah Diniyah Takmiliyah memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki landasan moral yang kuat. “Kehadiran gedung Madrasah Diniyah Takmiliyah Darussakinah ini merupakan ikhtiar kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pembinaan generasi muda yang beriman dan bertakwa,” ujar Mahyeldi.

Ia menjelaskan bahwa MDT Darussakinah diperuntukkan bagi generasi muda di lingkungan sekitar sebagai sarana pendidikan keagamaan tambahan di luar sekolah formal. Saat ini madrasah tersebut telah diikuti oleh puluhan siswa dari berbagai jenjang. “Alhamdulillah, hari ini kita meresmikan MDT Darussakinah sebagai tempat pembinaan generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, beriman, dan bertakwa,” katanya.

Mahyeldi juga menekankan pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa orang tua tetap memiliki peran utama dalam membentuk karakter dan akhlak anak-anak. “Generasi muda adalah calon pemimpin masa depan. Karena itu mereka harus dibekali dengan penguatan karakter, akidah, dan nilai-nilai keislaman yang kuat,” tuturnya.

Ia berharap dengan berdirinya MDT Darussakinah, generasi muda di lingkungan tersebut memiliki akidah yang kokoh sebagai sumber kekuatan dalam kehidupan, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berbagai hal yang dapat merusak moral dan masa depan mereka.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Mahyeldi juga menandatangani prasasti pendirian serta menggunting pita sebagai tanda peresmian gedung Madrasah Diniyah Takmiliyah Darussakinah. (adpsb/nov/bud)

Safari Ramadan di Daerah Perbatasan Provinsi Sumbar, Wagub Vasko Serahkan Bantuan untuk Masjid Al-Mujahadah Padang Tarok    
Kamis, Maret 12, 2026

On Kamis, Maret 12, 2026

Safari Ramadan di Daerah Perbatasan Provinsi Sumbar, Wagub Vasko Serahkan Bantuan untuk Masjid Al-Mujahadah Padang Tarok
Wagub Sumbar, Vasko Ruseimy melaksanakan Safari Ramadan di Nagari Padang Tarok, Kecamatan Kamang Baru. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Wakil Gubernur Sumatera Barat (Wagub Sumbar), Vasko Ruseimy melaksanakan Safari Ramadan di Nagari Padang Tarok, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, Rabu (11/3/2026). Dalam kunjungan ke wilayah perbatasan Sumatera Barat–Riau tersebut, Wagub menyerahkan bantuan untuk Masjid Al-Mujahadah sekaligus menyerap aspirasi masyarakat terkait pembangunan daerah.

Kegiatan Safari Ramadan dipusatkan di Masjid Al-Mujahadah, Jorong Muaro Buan, Nagari Padang Tarok. Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur menyerahkan bantuan sebesar Rp50 juta dari Pemerintah Provinsi Sumbar untuk pembangunan masjid, 40 mushaf Al-Qur’an, bantuan Rp10 juta dari Bank Nagari, serta dukungan Rp3 juta dari Baznas dan Bapenda Sumbar. Kunjungan ke daerah perbatasan ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Sumbar untuk memastikan pembangunan dan perhatian pemerintah dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan. “Kami dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat merasa bangga bisa hadir, salat dan berbuka puasa bersama masyarakat di Masjid Al-Mujahadah Padang Tarok,” ujar Vasko. 

Dalam sambutannya, Vasko menegaskan bahwa pembangunan di Sumbar itu tidak hanya terpusat pada beberapa wilayah saja. Pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten akan terus memperkuat sinergi agar pembangunan dapat dirasakan secara merata di seluruh daerah. “Kami bersama Pak Gubernur berkomitmen membangun Sumatera Barat tanpa membeda-bedakan daerah. Termasuk Kabupaten Sijunjung akan kita perhatikan dan kita bangun bersama,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi infrastruktur menuju Nagari Padang Tarok yang masih memerlukan perhatian, terutama akses jalan yang menjadi jalur utama mobilitas masyarakat di kawasan tersebut. Menurut Vasko, Pemprov Sumbar akan terus mendorong peningkatan infrastruktur tersebut melalui dukungan anggaran pemerintah pusat serta kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sijunjung. “Membangun itu tidak bisa sendiri-sendiri. Harus basamo-samo antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan masyarakat,” katanya.

Sementara itu Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir menyampaikan Nagari Padang Tarok merupakan wilayah perbatasan yang secara geografis cukup jauh dari pusat kabupaten, sehingga akses infrastruktur masih menjadi salah satu tantangan pembangunan di kawasan tersebut. Ia menjelaskan bahwa peningkatan jalan menuju kawasan Padang Tarok telah diusulkan kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan saat ini masih menunggu dukungan anggaran. “Tadi Pak Wagub masuk dari Simpang Kamang dan merasakan langsung kondisi jalan yang cukup bergelombang. Itu sudah kami usulkan ke Kementerian PUPR dan saat ini menunggu dukungan anggaran,” ujar Benny.

Di sisi lain, ia menilai Kecamatan Kamang Baru memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Di kawasan tersebut telah berkembang sejumlah industri, termasuk pabrik kelapa sawit yang menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah. Pemerintah Kabupaten Sijunjung juga tengah menyiapkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas sekitar 50 megawatt untuk mendukung kebutuhan energi dan mendorong investasi di kawasan tersebut. “Jika PLTS ini terwujud, tentu akan menjadi daya tarik bagi investor untuk berinvestasi di Kabupaten Sijunjung,” kata Benny.

Safari Ramadan Pemprov Sumbar ke daerah perbatasan ini sekaligus menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat, serta memperkuat koordinasi pembangunan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten. (adpsb/cen/bud)