HEADLINE
Catatan Dr. Khairul Ikwan, MM: Dangkalnya Air Tenang    
Senin, Maret 16, 2026

On Senin, Maret 16, 2026

Catatan Dr. Khairul Ikwan, MM: Dangkalnya Air Tenang
Pemerhati masalah sosial politik, dosen dan penulis Dr. H. Khairul Ikhwan, MM. 

KATA PENGANTAR & PROLOG

Prolog: Dangkalnya Air Tenang
Ada pepatah lama yang sering kita dengar: "Air yang tenang takkan beriak." Kita sering menjadikannya sebagai mantra untuk menenangkan diri. Namun, jika dikaji lebih dalam, pepatah ini bisa menjadi jebakan mematikan bagi pertumbuhan jiwa. Air yang terlalu tenang, jika tak ada aliran masuk atau keluar, lama-kelamaan akan menjadi genangan. Air genangan itu jernih di awal, tapi seiring waktu, ia akan berubah menjadi hijau berlumut, menjadi sarang nyamuk, dan akhirnya membusuk.

Kehidupan kita tak jauh beda dengan air itu. Banyak dari kita - masyarakat umum maupun mahasiswa - yang terjebak dalam ilusi ketenangan. Kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki hari ini. Kita merasa comfortable dengan zona nyaman. "Toh, saya bisa makan hari ini. Toh, IPK saya lulus cumlaude meski hanya belajar semalam sebelum ujian."

Pertanyaannya: Apakah ini tujuan akhir hidup? Hanya bertahan, bukan berkembang? Di sinilah urgensi "Penetapan Lawan" menjadi sesuatu yang krusial. Tanpa lawan, tanpa tantangan, dan tanpa target yang harus dikalahkan, potensi diri kita akan mengalami atrofi - menyusut layaknya otot yang tak pernah digunakan. Tulisan ini mengajak Kita untuk tidak takut pada kompetisi, tetapi menyambutnya dengan tangan terbuka sebagai satu-satunya cara untuk mengetahui seberapa dalam kekuatan yang Kita miliki.

BAGIAN 1
DIAGNOSA KENIKMATAN: BAHAYA HIDUP TANPA TARGET

Narasi: Sindrom "Numpuk Lewat"
Coba bayangkan seekor singa di kebun binatang. Setiap hari, pada jam yang sama, pawang melempar daging segar ke dalam kandangnya. Singa itu tidak perlu berlari, tidak perlu menerkam, dan tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk makan. Awalnya, ia mungkin merasa senang. Hidup mudah. Tapi setelah beberapa tahun, apa yang terjadi? Mata singa itu kehilangan kilasannya. Otot-ototnya mengendor. Insting pemburu yang membara padam. Ia berubah menjadi seekor kucing besar yang malas, kesehatannya menurun, dan ia kehilangan jati dirinya sebagai Sang Raja Hutan.

Ini adalah gambaran yang sangat mirip dengan fenomena yang terjadi di kalangan mahasiswa dan pekerja saat ini. Kita hidup di era kemudahan akses. Informasi ada di genggaman, hiburan ada di layar kaca. Kita mudah merasa puas. Jika teman kita dapat nilai B, dan kita dapat B , kita sudah merasa menang. Jika gaji teman kita lima juta, dan kita mendapat enam juta, kita merasa sukses.

Kita berhenti menetapkan "lawan". Kita berhenti menetapkan standar yang lebih tinggi. Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan alami untuk hemat energi (homeostasis). Otak kita memerintahkan tubuh untuk melakukan sesuatu seminimal mungkin demi bertahan hidup. Namun, dalam konteks perkembangan diri (self-actualization), sifat bawaan ini justru boomerang. Tanpa adanya tekanan eksternal - sebuah "lawan" yang harus dikalahkan - kita akan cenderung stagnan.

Menetapkan lawan bukan berarti kita harus membenci orang lain atau menjadi individu yang penuh permusuhan. Tidak. Ini tentang strategi psikologis untuk memicu adrenalin positif. Lawan di sini adalah “benchmark” (tolok ukur) dan “catalyst” (katalis) yang memaksa kita untuk bangun pagi lebih awal, membaca satu buku lagi, atau mengasah skill yang belum kita kuasai.

Jika Kita merasa hidup hambar, atau kemajuan Kita berjalan sangat lambat, mungkin diagnosa sederhananya adalah: Kita belum memiliki lawan yang layak.

BAGIAN 2
FILOSOFI PANAH: TARIKAN MENENTUKAN JARAK TEMBAK

Hikmah: Ilmu Fisika Kehidupan
Dalam ilmu fisika dasar, kita mengenal Hukum III Newton tentang Aksi dan Reaksi. Namun, ada analogi yang lebih indah tentang busur panah. Pernahkah Anda melihat seorang pemanah melepaskan anak panahnya? Agar anak panah itu bisa menembus udara dengan kencang dan mengenai sasaran jauh, tali busur harus ditarik ke belakang sekuat tenaga. Semakin kuat tarikan ke belakang, semakin jauh dan kencang anak panah itu meluncur ke depan.

Tarikan ke belakang itu adalah "Lawan". Rasa sakit karena tertinggal, rasa minder karena kemampuan kita masih di bawah standar, tekanan ekonomi, atau kegagalan masa lalu - itulah yang menarik tali busur kita.

Bagi Seluruh Alam. Jika kita menolak untuk memiliki lawan, jika kita menolak merasakan sakit karena tertekan oleh kompetisi, maka tali busur kita tidak akan pernah ditarik. Anak panah kita akan meluncur pelan, jatuh di kaki kita sendiri, tak pernah mencapai target.

”Menetapkan Lawan adalah Menetapkan Arah”

Bayangkan Kita berlari di lapangan bola yang sangat luas tanpa adanya gawang. Anda bisa lari ke utara, selatan, timur, atau barat. Tapi karena tidak ada "lawan" (gawang yang harus dimasuki bola), lari Kita hanya akan membuat Kita lelah tanpa tujuan. Lawan memberikan “arah” pada energi yang kita miliki.

Bagi mahasiswa, menetapkan lawan bisa berupa menargetkan untuk mengalahkan predikat cumlaude angkatan sebelumnya. Bagi pebisnis, lawan bisa berupa target market share yang harus direbut dari kompetitor. Bagi ibu rumah tangga, lawan bisa berupa versi dirinya sendiri kemarin yang lebih emosional, hari ini harus lebih sabar.

Dengan menetapkan lawan, kita mengubah energi yang terdispersi (tersebar di mana-mana) menjadi energi yang terfokus (terkonsentrasi pada satu titik sasaran).

BAGIAN 3
PERSPEKTIF ILAHIYAH: DALIL DAN TAFSIR

Ini adalah bagian terpenting. Sebagai manusia beriman, urgensi penetapan lawan bukan hanya didorong oleh motif psikologis duniawi, tetapi lebih-lebih oleh perintah agama. Islam memuliakan kompetisi, namun kompetisi yang terarah.

Dalil Pertama: Lomba Menuju Kebaikan
Allah Subhanahu wa Ta’la berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 148:

"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 148)

Kata kunci di sini adalah "Fastabiqul Khairat". Secara bahasa, “fastabiqu” berasal dari kata “sabaqa”, yang artinya berlari kencang untuk mendahului orang lain. Ini adalah bentuk perintah yang tegas untuk memiliki semangat “mengejar” dan “mendahului”. Bagaimana kita bisa mendahului jika tidak ada orang lain yang kita jadikan tolok ukur (lawan)?

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan ini adalah arena balap. Bukan balap untuk saling menjatuhkan, tapi balap siapa yang paling banyak amal shalihnya, ilmunya, dan manfaatnya bagi umat.

Dalil Kedua: Dorongan Menuju Ampunan
Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 21:

"Bergegaslah kamu kepada (memperoleh) ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya..." (QS. Al-Hadid: 21)

Perhatikan kata "Bergegaslah" (Sari'u). Ini adalah imperatif (perintah) untuk bersifat urgensi. Rasa santai dan tidak memiliki target lawan bertentangan dengan semangat "sari'u" ini. Nabi SAW sendiri memberikan contoh bagaimana beliau menyadari adanya "lawan waktu" dan "lawan nafsu".

Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang."

Penetapan lawan adalah cara kita bersyukur atas kesehatan dan waktu luang. Jika waktu luang kita isi dengan kebodohan tanpa adanya tekanan untuk belajar atau berbuat baik, maka kita termasuk orang yang tertipu.

Tafsir Kontekstual: Musuh Utama vs Lawan Taktis
Dalam pandangan Islam, musuh utama yang nyata ada tiga: Hawa Nafsu, Syaitan, dan Dunia yang menipu. Namun, untuk mengalahkan ketiga musuh ini, kita membutuhkan "Lawan Taktis" di dunia nyata. Lawan taktis ini bisa berupa teman sejawat yang lebih rajin, bisa berupa atasan yang tegas, atau bisa berupa standar tinggi yang kita buat sendiri.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah berkata, "Jika kamu tidak menjadikan kesibukanmu sebagai lawan bagi kelemahanmu, maka kelemahanmu akan menjadikanmu sebagai tawanan."

BAGIAN 4
KISAH-KISAH INSPIRATIF: KETIKA LAWAN MELAHIRKAN KEJAYAAN

Sejarah membuktikan bahwa tokoh-tokoh besar lahir bukan dari ruang hampa, tapi dari rahim kompetisi dan penetapan lawan yang keras.

Kisah 1: Ali bin Abi Thalib dan Sa’ad bin Mu’az (Dalam Adab Debat)
Dalam literatur Islam, kisah tentang debat antara Sahabat Ali bin Abi Thalib dan Sa'ad bin Mu'az sering diceritakan. Saat itu, Rasulullah meminta mereka berdua untuk mendebat isu hukum. Ali, yang cerdas dan fasih, mempersiapkan argumennya dengan matang. Ia tahu Sa'ad adalah figur yang dihormati dan kuat pendiriannya. Ali menjadikan Sa'ad sebagai "lawan" intelektual yang harus dikalahkan dengan argumentasi terbaik, bukan dengan permusuhan. Hasilnya? Debat itu melahirkan hikmah dan penetapan hukum yang kuat. Ali tidak menyalahkan keberadaan Sa'ad, justru ia bersyukur ada Sa'ad yang memaksa otaknya bekerja maksimal.

Kisah 2: Rivalitas Aristotle dan Plato (Filsafat Barat)
Aristoteles adalah murid dari Plato. Dalam dunia akademik, biasanya murid mengikuti jejak gurunya. Namun Aristotle memiliki cara pandang berbeda. Ia menjadikan pemikiran gurunya sendiri sebagai "lawan" diskusi. Ia mengatakan kalimat terkenal: "Amicus Plato, sed magis amica veritas" (Plato adalah sahabatku, tapi kebenaran lebih kuat cintaku). Ia berani menentang gagasan Plato demi menemukan kebenaran yang lebih hakiki. Karena ia berani menetapkan standar pemikiran gurunya sebagai lawan untuk dilewati, lahirlah konsep-konsep filsafat yang menjadi dasar peradaban Barat dan Islam kemudian hari. Bayangkan jika Aristotle hanya mengangguk-angguk saja pada Plato.

Kisah 3: Seekor Rusa dan Singa (Fabel Kehidupan)
Di sebuah hutan, seekor rusa berkata pada temannya, "Aku bisa berlari sangat cepat, melebihi singa." Temannya menjawab, "Mengapa kamu bisa secepat itu?" Rusa itu menjawab tegas, "Ketika aku berlari, aku membayangkan singa ada di belakangku. Jika aku lambat, aku mati. Jika aku cepat, aku hidup. Singa itu adalah lawanku, tapi sekaligus penyelamatku."

Dalam kehidupan nyata, "singa" itu bisa berarti deadline tugas skripsi, bisa berarti kebutuhan ekonomi keluarga, atau bisa berarti pesaing di dunia kerja. Jika tidak ada "singa" yang mengejar, rusa itu akan menjadi gemuk dan lambat, mudah diburu siapa saja.

Kisah 4: Atlet Bolt dan Rekor Dunia
Usain Bolt, pelari tercepat di dunia, tidak pernah berlari sendirian di kepalaanya. Ia selalu mengejar "waktu" dan "rekor". Ia menjadikan jam stopwatch sebagai lawannya. Dalam setiap lomba, kehadiran pelari-pelari lain di lintasan sebelahnya adalah pemicu adrenalin. Dalam wawancara, Bolt pernah mengatakan bahwa kehadiran pesaing terdekatnya membuatnya mampu memecahkan rekor yang mustahil dilakukannya jika ia hanya berlari sendirian di lapangan latihan.

BAGIAN 5
STRATEGI PRAKTIS: MENETAPKAN LAWAN BAGI MAHASISWA & MASYARAKAT UMUM

Teori tanpa praktik adalah omong kosong. Bagaimana cara menerapkan "Penetapan Lawan" ini dalam keseharian tanpa membuat kita stres atau depresi?

1. Klasifikasi Lawan: Siapa Musuhmu?
Jangan salah menetapkan lawan. Jangan menjadikan teman sekerja sebagai musuh yang harus dibunuh karakternya. Itu berbahaya.

• Lawan Eksternal Positif: Teman yang rajin, atasan yang kritis, kompetitor di bisnis. Jadikan mereka sebagai cermin. "Jika dia bisa, kenapa saya tidak?"

• Lawan Abstrak: Waktu, Kemalasan, Ketidaktahuan.

• Lawan Internal (Paling Penting): Diri Sendiri Kemarin. Ini adalah lawan terbaik. Targetkan hari ini harus lebih baik dari kemarin.

2. Teknik "Shadow Boxing" (Petinju Bayangan)
Bagi mahasiswa yang belum menemukan teman yang selevel, gunakan teknik “Shadow Boxing”. Bayangkan ada seseorang yang luar biasa hebat - misalnya seorang ilmuwan atau pengusaha sukses - selalu berdiri di samping Kita.

• Ketika malas bangun shubuh, bayangkan "Tokoh Idola" itu sudah menyelesaikan hafalan Qur’an nya.

• Ketika malas mengerjakan tugas, bayangkan dia sedang menulis buku.

Bertindaklah seolah-olah Kita sedang berkompetisi dengannya. Ini adalah teknik psikologis yang ampuh.

3. Jaga Sportivitas dan Adab
Penetapan lawan dalam Islam diikat oleh adab. Rasulullah bersabda: "Jangan dengki kecuali dalam dua hal: terhadap orang yang diberi harta lalu dia belanjakannya di jalan kebenaran, dan terhadap orang yang diberi hikmah lalu dia mempergunakannya dan mengajarkannya." (HR. Bukhari Muslim).

Rasa iri yang positif (ghibthah) inilah yang menjadi bahan bakar. Bukan iri yang membuat Kita ingin menjatuhkan orang lain, tapi iri yang membuat Kita ingin menyalin kesuksesan mereka.

4. Evaluasi Berkala
Seperti atlet yang melihat rekaman pertandingan, mahasiswa dan pekerja harus evaluasi diri. "Apakah saya sudah berhasil mengalahkan malas saya hari ini? Apakah saya sudah mendekati target saya?" Jika Kita kalah hari ini dari lawan Kita, jangan menyerah. Besok, latihanlah lebih keras.

Contoh Kasus Nyata:
Andi, mahasiswa semester 3, nilainya pas-pasan. Dia iri pada Budi yang selalu IPK nya 4.0. Alih-alih membenci Budi atau menyebarkan gosip, Andi mendekati Budi. "Bi, bagaimana cara kamu belajar?" Budi menjawab. Andi lalu menetapkan strategi: Saya harus mengalahkan Budi dalam hal kedatangan ke kelas. Awalnya Budi masih lebih rajin. Tapi semester berikutnya, Andi berhasil datang lebih awal dan lebih siap. Lawan (Budi) telah berhasil mendorong Andi menjadi versi terbaik dari dirinya.

PENUTUP
SAATNYA MENJADI RAJA DIRI SENDIRI

Hikmah Penutup: Pedang dan Batu
Sebuah pedang yang tajam tidak akan terbentuk jika besinya hanya dipijit-pijit lembut. Ia harus ditempa, dipukul, dan dibenturkan ke batu yang keras berkali-kali. Batu itu adalah "lawan" bagi pedang. Tanpa benturan dengan batu yang keras, besi itu hanya akan menjadi gumpalan logam yang tumpul dan tak berguna.

Kita adalah besi itu. Kehidupan dengan segala tantangannya adalah palu tempa. Dan orang-orang yang sukses di sekitar Kita adalah batu pengasah.

Jangan takut jika Kita merasa "terkalahkan" saat ini. Jangan putus asa jika kita melihat orang lain jauh lebih unggul. Itu tandanya kita sedang ditempa. itu tandanya Kita memiliki "Lawan" yang layak.

Urgensi penetapan lawan bukanlah soal siapa yang paling populer, siapa yang paling kaya, atau siapa yang paling pintar di atas kertas. Urgensi ini adalah soal “kematangan jiwa”. Jiwa yang matang adalah jiwa yang menyadari bahwa hidup adalah perjuangan konstan. Berhenti melawan berarti berhenti hidup. (*) 

Braditi Moulevey Berbagi Kebahagiaan dengan Anak Yatim dan Fakir Miskin    
Senin, Maret 16, 2026

On Senin, Maret 16, 2026

Braditi Moulevey Berbagi Kebahagiaan dengan Anak Yatim dan Fakir Miskin
Braditi Moulevey, di kawasan Duren Sawit menjadi momentum berbagi kebahagiaan kepada warga sekitar, khususnya anak yatim dan fakir miskin. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Kegiatan buka puasa bersama yang digelar tokoh masyarakat Jakarta Timur sekaligus Perantau Minang, Braditi Moulevey, di kawasan Duren Sawit menjadi momentum berbagi kebahagiaan kepada warga sekitar, khususnya anak yatim dan fakir miskin.

Acara yang berlangsung pada Jumat (15/3/2026) itu digelar secara sederhana di kediamannya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Meski tidak mengundang banyak tokoh, kegiatan tersebut tetap berlangsung hangat dengan kehadiran sejumlah tokoh masyarakat setempat serta unsur pemerintahan.

Dalam kegiatan tersebut hadir Lurah Duren Sawit Santi Nur Rifiandini, ketua RT dan RW setempat, Ketua DPC IKM Jakarta Timur, serta pengurus DPW IKM Jakarta. Selain itu, kegiatan juga dihadiri oleh Ketua MUI Kelurahan Duren Sawit KH Nasrullah Jamaluddin.

Braditi Moulevey mengatakan kegiatan ini memang tidak digelar secara besar-besaran karena fokus utama kegiatan adalah berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

“Kami telah melakukan buka puasa bersama dengan warga sekitar dan beberapa tokoh masyarakat yang ada di sekitar kediaman saya, di Duren Sawit dan juga dihadiri oleh Lurah Duren Sawit, Santi Nur Rifiandini dan juga RT, RW setempat, selain itu juga juga ada Ketua DPC IKM Jakarta Timur dan DPW Jakarta,” katanya, Minggu (15/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut lebih menitikberatkan pada kepedulian sosial kepada anak-anak yatim serta warga kurang mampu di sekitar lingkungannya.

“Kegiatan ini memang terbatas, kami juga tak mengundang seluruh tokoh masyarakat karena memang esensi kegiatan ini kami berbagi kebahagiaan kepada anak-anak yatim yang berada di sekitar kediaman saya, kemudian memberikan santunan untuk anak-anak yatim serta warga fakir miskin di sekitar kediaman saya, yaitu berupa paket sembako dan juga kain sarung untuk lebaran,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, panitia membagikan ratusan paket sembako kepada warga sekitar. Bantuan tersebut juga dilengkapi dengan kain sarung yang diberikan sebagai bagian dari persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Kegiatan sosial tersebut merupakan hasil kerja sama antara Yayasan Tijarotaan Lan Taburro yang dipimpin Braditi Moulevey dengan sejumlah pihak yang turut memberikan dukungan.

“Alhamdulillah, kegiatan ini terselenggara sebagai bentuk kebersamaan dan berbagi kebahagiaan yang kami lakukan dengan bekerjasama antara yayasan saya, Tijarotaan Lan Taburro dan beberapa pihak donatur yang telah bersedia membantu meringankan beban saudara-saudara kita ini,” katanya.

Sebagai tokoh masyarakat di Jakarta Timur yang juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial, pria yang akrab disapa Levi itu berharap kegiatan berbagi seperti ini dapat terus dilakukan setiap Ramadan.

Ia menyebut bahwa semangat berbagi di bulan suci menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan sosial antara masyarakat sekaligus membantu warga yang membutuhkan.

Rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh kekeluargaan, dimulai dari pembukaan, penyerahan santunan, hingga acara buka puasa bersama. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah bersama warga sekitar.

“Alhamdulillah berjalan lancar, dari pembukaan hingga berbuka bersama dan salat tarawih berjamaah,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM) tersebut.

Melalui kegiatan ini, Braditi Moulevey berharap semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat terus terjaga. Khususnya selama Ramadan 1447 Hijriah, sehingga kebahagiaan dapat dirasakan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat. (*)

Gus Yaqut Terjerat Kasus Korupsi Kouta Haji, Ini Respons Cak Imin    
Senin, Maret 16, 2026

On Senin, Maret 16, 2026

Gus Yaqut Terjerat Kasus Korupsi Kouta Haji, Ini Respons Cak Imin
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dalam suatu kesempatan. (Foto/Net) 

BENTENGSUMBAR.COM
- Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin buka suara soal mantan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) terjerat kasus korupsi kuota haji. Cak Imin enggan berkomentar banyak, karena kasus tersebut tak ada kaitannya dengan dia.

"Enggak ada hubungannya sama saya," kata Cak Imin saat ditemui di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Minggu (15/3/2026).

Gus Yaqut ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dalam kasus kuota haji. Ia ditetapkan tersangka bersama mantan Staf Khusus Menteri Agama, Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex.

Cak Imin diketahui secara resmi mengesahkan pembentukan pansus angket tentang pengawasan haji. Pansus ini dibentuk saat Gus Yaqut menjadi Menag untuk mengevaluasi pelaksanaan haji 2024.

Namun ketika kembali ditanya tanggapan sebagai Pansus Haji DPR, Cak Imin menegaskan bahwa hal tersebut tidak lagi ada kaitannya dengan dirinya. Karena ia saat ini merupakan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat bukan bagian dari Pansus Haji.

“Enggak ada hubungannya sama saya. Tanya Pansus DPR. Saya Menteri, bukan DPR,” ujarnya.

Diketahui, KPK resmi menahan Gus Yaqut, Kamis (12/3/2026). Penahanan ini usai tim penyidik KPK memeriksa Gus Yaqut sebagai tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2024.

KPK menyatakan Gus Yaqut diduga menerima aliran uang percepatan pemberangkatan haji tahun 2023. Bukan hanya Gus Yaqut, aliran uang itu juga mengalir Gus Alex dan beberapa pejabat Kementerian Agama (Kemenag).

Hal itu sebagaimana disampaikan Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu saat konferensi pers penahanan Gus Yaqut di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

"Berdasarkan hasil pemeriksaan Tim KPK bahwa RFA (Rizky Fisa Abadi selaku mantan Kasubdit Perizinan, Akreditasi, dan Bina Penyelenggaraan Haji Khusus Kementerian Agama) juga memberikan fee percepatan tersebut kepada YCQ, IAA, serta sejumlah pejabat di Kementerian Agama," ujar Asep.

Ini berawal ketika Indonesia menerima kuota tambahan sebanyak 8 ribu pada tahun 2023. Kemudian, Rizky Fisa melakukan pertemuan dengan asosiasi Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) atau travel terkait penyerapan kuota haji khusus tambahan sebanyak 640 jemaah. Angka tersebut merupakan hasil dari pembagian 92:8 persen dari total 8 ribu kuota tambahan.

"RFA kemudian menentukan kuota jemaah untuk 54 PIHK, sehingga bisa berangkat langsung tanpa antrean. RFA juga memberikan perlakuan khusus kepada PIHK tertentu untuk bisa mengisi kuota haji khusus tambahan dengan jemaah haji khusus T0 atau TX atau percepatan/tidak sesuai nomor urut," ungkapnya.

Selanjutnya, Rizky Fiza memerintahkan stafnya untuk mengumpulkan fee percepatan dari PIHK untuk pengisian kuota haji khusus tambahan yang mendapatkan T0 atau TX senilai USD5.000 atau Rp84,4 juta per jemaah. "Salah satu caranya dengan mengalihkan jemaah haji visa mujamalah menjadi haji khusus," ucapnya. (*)

Amerika Salah Perhitungan dalam Perang Melawan Iran    
Senin, Maret 16, 2026

On Senin, Maret 16, 2026

Amerika Salah Perhitungan dalam Perang Melawan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Mojtaba Khamenei dengan latar Timteng dalam kolase foto. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran dalam hampir dua pekan terakhir dinilai berkembang jauh lebih kompleks dari perkiraan awal Washington.

Dalam ulasannya di media Rusia RT, analis geopolitik Farhad Ibragimov menilai strategi Amerika sejak awal didasarkan pada asumsi yang terlalu optimistis mengenai keruntuhan cepat sistem politik Iran.

Menurutnya, Washington semula memperkirakan serangan militer besar akan segera melemahkan Iran dan bahkan memicu runtuhnya pemerintahan hanya dalam satu atau dua hari pertama konflik. Asumsinya, pukulan telak terhadap kepemimpinan negara akan memicu efek domino berupa kekacauan di kalangan elite politik, lumpuhnya institusi negara, dan runtuhnya struktur pemerintahan.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda. Meski berada di bawah tekanan militer besar, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan sistemik. Lembaga pemerintahan tetap berfungsi, proses pengambilan keputusan berjalan, dan struktur negara tetap terkendali meskipun Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan terbunuh pada hari pertama perang.

Sebagai bagian dari mekanisme politik negara tersebut, Majelis Pakar Iran kemudian menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Penunjukan ini menunjukkan bahwa sistem politik Iran memiliki struktur kelembagaan yang mampu menjaga kesinambungan kekuasaan bahkan dalam situasi krisis besar.

Ibragimov menilai ketahanan itu tidak terlepas dari pengalaman panjang Iran menghadapi tekanan eksternal, mulai dari Perang Iran-Irak hingga puluhan tahun sanksi internasional sejak Revolusi Islam Iran 1979. Model negara yang menggabungkan legitimasi religius, aparat keamanan kuat, serta struktur pemerintahan yang fleksibel dinilai memungkinkan Iran bertahan dalam tekanan ekstrem.

Di sisi lain, ia juga menyoroti inkonsistensi pernyataan pemerintah Donald Trump terkait tujuan perang. Awalnya Washington menyebut targetnya adalah perubahan rezim di Iran, namun kemudian narasi tersebut bergeser menjadi demiliterisasi Iran dan pembatasan kemampuan militernya. Ibragimov menilai perubahan retorika ini memperlihatkan ketidakjelasan strategi.

“Harapan awal Washington akan pelemahan Iran yang cepat tidak terwujud. Sebaliknya, situasi saat ini menunjukkan bahwa Republik Islam sedang menghadapi ujian berat dan siap menunjukkan ketahanannya terhadap tekanan eksternal,” tulis Ibragimov.

Menurutnya, perkembangan ini memperlihatkan bahwa konflik tersebut bukan hanya perang militer, tetapi juga ujian terhadap stabilitas politik Iran. (*) 

Sumber: RMOL

Wawako Maigus Nasir Apresiasi Pelaksanaan Pesantren Ramadan Khusus    
Minggu, Maret 15, 2026

On Minggu, Maret 15, 2026

Wawako Maigus Nasir Apresiasi Pelaksanaan Pesantren Ramadan Khusus
Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, secara resmi menutup Pesantren Ramadan Khusus tingkat SMP/MTs se-Kota Padang Tahun 1447 Hijriah. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, secara resmi menutup Pesantren Ramadan Khusus tingkat SMP/MTs se-Kota Padang Tahun 1447 Hijriah yang digelar di Masjid Agung Nurul Iman, Minggu (15/3/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Pesantren Ramadan Berbasis Smart Surau untuk Padang Juara” ini berlangsung sejak 23 Februari hingga 15 Maret 2026 dengan diikuti 66 siswa pilihan dari sembilan sekolah di Kota Padang, terdiri dari enam SMP dan tiga MTs.

Para peserta dipersiapkan tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga kemampuan kepemimpinan untuk menghidupkan aktivitas masjid di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.

Dalam sambutannya, Maigus Nasir mengapresiasi pelaksanaan Pesantren Ramadan khusus yang dirancang sebagai wadah pembinaan karakter sekaligus kaderisasi kepemimpinan bagi generasi muda Kota Padang.

Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Padang bersama  Kantor Kemenag Kota Padang dalam menyiapkan generasi muda sebagai pelopor gerakan remaja masjid. “Program ini menjadi bagian dari upaya kita bersama dalam menyiapkan generasi muda sebagai pelopor gerakan remaja masjid. Alhamdulillah terlaksana secara baik dari awal hingga akhir,” ujarnya.

Maigus menambahkan bahwa kurikulum yang diterapkan dalam pesantren Ramadan khusus ini tidak hanya berfokus pada pembelajaran agama, tetapi juga pembinaan kepemimpinan dan penguatan peran sosial generasi muda. “Program pesantren Ramadan khusus ini dipersiapkan untuk melahirkan pelopor Remaja Masjid Reborn. Mereka nantinya akan kembali ke masjid di lingkungan masing-masing dan sekaligus menjadi pelopor gerakan Smart Surau di Kota Padang,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan rasa syukur melihat keterlibatan para alumni Pesantren Ramadan khusus yang mulai aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan dan kepemudaan di sejumlah masjid. "Alhamdulillah, mereka mampu menunjukkan kapasitasnya dengan menyelenggarakan semarak Ramadan, dan juga pelaksanaan Remaja Masjid Agung Nurul Iman Festival 2026 kali ini," pungkas Maigus Nasir. (*)

Wako Fadly Amran Menutup Pelaksanaan Pesantren Ramadan 1447 H di Masjid Raya Al-Munawwarah Surau Gadang    
Minggu, Maret 15, 2026

On Minggu, Maret 15, 2026

Wako Fadly Amran Menutup Pelaksanaan Pesantren Ramadan 1447 H di Masjid Raya Al-Munawwarah Surau Gadang
Wali Kota Padang, Fadly Amran, secara resmi menutup pelaksanaan Pesantren Ramadan 1447 H. 

BENTENGSUMBAR.COM
– Wali Kota Padang, Fadly Amran, secara resmi menutup pelaksanaan Pesantren Ramadan 1447 H di Masjid Raya Al-Munawwarah, Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Minggu (15/3/2026).

Sebelum menutup kegiatan, Fadly Amran menyerahkan santunan kepada anak yatim dan menyaksikan pengukuhan Generasi Muda Masjid Raya Al Munawwarah (Gemara) periode 2026–2029. Pengukuhan ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum Masjid Raya Al-Munawwarah, Buya Masoed Abidin.

Fadly Amran menegaskan bahwa pembangunan generasi muda tidak hanya menitikberatkan pada aspek jasmani, tetapi juga pembinaan rohani. Karena itu Pemerintah Kota Padang menghadirkan program Smart Surau untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat. 

“Salah satu aktivasi dalam program Smart Surau adalah gerakan Subuh Mubarakah, yang mendorong siswa melaksanakan salat Subuh berjamaah di masjid dan musala. Alhamdulillah, rata-rata 30 ribu hingga 60 ribu siswa tercatat mengikuti kegiatan ini setiap hari, dengan persentase 60 hingga 90 persen dari target yang kita harapkan,” tambahnya.

Selain program Subuh Mubarakah, Pemko Padang juga menggagas program Remaja Masjid Reborn, yang mendorong lahirnya berbagai kegiatan kreatif dari para pemuda di masjid dan musala. Melalui program ini, para remaja masjid didorong untuk menyusun kegiatan positif.

“Untuk tahap awal, kami menyiapkan anggaran sekitar Rp100 juta untuk mendukung kegiatan kreatif dari remaja masjid ini. Kami berharap melalui kegiatan ini masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran, pusat pembinaan generasi muda, serta ruang sosial masyarakat,” ujar Fadly Amran.

Sementara itu, Ketua Bidang Dakwah sekaligus Ketua Pesantren Ramadan Masjid Raya  Al-Munawwarah, Amora Lubis, menyampaikan dalam kegiatan ini diserahkan santunan kepada 30 orang anak yatim yang bertempat tinggal di lingkungan masjid, yang masing-masing menerima bantuan sebesar Rp1 juta. “Atas nama pengurus dan jamaah kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wali Kota Padang yang dalam kesempatan ini memberikan 30 paket sembako kepada anak-anak yatim penerima santunan. Semoga perhatian ini membawa keberkahan bagi kita semua,” tuturnya. (*)

KKP Hentikan Pemanfaatan Ruang Laut Tak Berizin Seluas 30 Ha di Gresik    
Minggu, Maret 15, 2026

On Minggu, Maret 15, 2026

KKP Hentikan Pemanfaatan Ruang Laut Tak Berizin Seluas 30 Ha di Gresik
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara aktivitas pemanfaatan ruang laut seluas 30,17 hektare di wilayah Gresik, Jawa Timur.

BENTENGSUMBAR.COM
- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara aktivitas pemanfaatan ruang laut seluas 30,17 hektare di wilayah Gresik, Jawa Timur.

Langkah strategis ini dilakukan oleh Pengawas Kelautan Pangkalan PSDKP Benoa pada Kamis (12/03/26) terhadap kegiatan milik PT. PIM. Penghentian dilakukan lantaran perusahaan tersebut beroperasi tanpa dilengkapi dokumen Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL).

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) , Pung Nugroho Saksono (Ipunk), yang terjun langsung memimpin penyegelan di lokasi, menegaskan bahwa pemanfaatan ruang laut sesuai ketentuan adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar demi masa depan sumber daya kelautan.

“Upaya ini merupakan bentuk KKP yang hadir untuk menjaga sumber daya laut dan pesisir Indonesia. Kami harus menghentikan kegiatan yang tidak sesuai ketentuan ini sejak dini, karena aktivitas pemanfaatan ruang laut tanpa PKKPRL sangat berpotensi memicu kerusakan ekosistem yang masif dan merugikan,” tegas Ipunk di lokasi penyegelan.

Berdasarkan hasil pengawasan Pengawas Kelautan di lapangan, aktivitas PT. PIM diduga kuat melanggar regulasi pemanfaatan ruang laut yang dapat mengancam keseimbangan pesisir Gresik. Ipunk menjelaskan bahwa tindakan penghentian sementara yang dilakukan oleh Polsus PWP3K ini merupakan wewenang sah yang diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 30 Tahun 2021, sebagai upaya mitigasi agar dampak pelanggaran tidak semakin meluas.

Lebih lanjut, Ipunk menegaskan bahwa aturan ini berlaku tanpa pandang bulu bagi seluruh pelaku usaha. Setiap entitas yang ingin memanfaatkan ruang laut diwajibkan memiliki PKKPRL. Khusus untuk aktivitas reklamasi, pelaku usaha juga mutlak harus mengantongi izin reklamasi sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28 Tahun 2021 dan dipertegas melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.

Selain diwajibkan memiliki izin, setiap pelaku usaha juga terikat untuk mematuhi seluruh rambu-rambu ekologis yang tertera di dalam perizinan tersebut, termasuk tidak melebihi kesesuaian luasan area usaha yang diizinkan.

“Terhadap pelanggaran di Gresik ini, setelah proses penghentian operasional, Ditjen PSDKP akan langsung melakukan pemeriksaan secara mendalam. Apabila ditemukan indikasi, kami akan menjatuhkan sanksi tegas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku agar ada efek jera,” pungkas Ipunk.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa ekologi adalah panglima dalam tata kelola laut Indonesia. KKP tidak akan berkompromi terhadap segala bentuk aktivitas pemanfaatan ruang laut yang merusak daya dukung lingkungan pesisir. (*)