HEADLINE
Wako Fadly Amran Melakukan Pertemuan dengan Sekjend Kementerian Luar Negeri RI    
Senin, April 13, 2026

On Senin, April 13, 2026

Wako Fadly Amran Melakukan Pertemuan dengan Sekjend Kementerian Luar Negeri RI
Pemerintah Kota (Pemko) Padang mengharapkan dukungan Kementerian Luar Negeri RI untuk mengangkat isu revitalisasi Batang Arau. 

BENTENGSUMBAR.COM
– Wali Kota Padang Fadly Amran melakukan pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Denny Abdi, di Rumah Makan Silungkang, Senin siang (13/4/2026).

Dalam pertemuan ini, Pemerintah Kota (Pemko) Padang mengharapkan dukungan Kementerian Luar Negeri RI untuk mengangkat isu revitalisasi Batang Arau dalam agenda pertemuan tingkat tinggi antara Indonesia dan Jerman yang akan digelar di Jakarta.

Fadly Amran menyampaikan bahwa upaya penataan dan pembersihan Sungai Batang Arau telah memiliki kajian teknis yang disusun oleh pihak Jerman. Namun, hingga saat ini program tersebut belum memasuki tahap implementasi.

Ia menjelaskan, berdasarkan rekomendasi strategis dari GIZ Jerman, revitalisasi Sungai Batang Arau dapat dilakukan melalui pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpusat dengan teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR).

Teknologi MBBR dinilai efisien dalam mengolah air limbah dengan memanfaatkan media plastik khusus (carrier) sebagai tempat tumbuh kembang bakteri pengurai polutan. Selain itu, sistem perpipaan air limbah dirancang terpisah sepenuhnya dari jaringan drainase air hujan.

“Kami berharap revitalisasi Sungai Batang Arau ini dapat dimasukkan sebagai salah satu poin pembahasan dalam pertemuan bilateral yang akan dilaksanakan nanti, sehingga dapat mendorong realisasi kerja sama yang lebih konkret,” ujar Fadly Amran. 

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri RI Denny Abdi menyatakan akan mendorong agar isu revitalisasi Batang Arau agar dapat dapat menjadi bagian pembahasan dalam forum resmi antara Indonesia dan Jerman.

“Usulan Pemerintah Kota Padang ini akan kami tindak lanjuti dan dorong agar dapat menjadi bagian dari agenda pembahasan dalam forum bilateral Indonesia–Jerman. Isu lingkungan seperti ini memiliki relevansi yang kuat dalam kerja sama kedua negara,” ujar Denny Abdi. (*)

Wako Fadly Amran: Kami Sangat Mendukung Penuh Inisiatif Pengembangan RSUP Dr. M. Djamil    
Senin, April 13, 2026

On Senin, April 13, 2026

Wako Fadly Amran: Kami Sangat Mendukung Penuh Inisiatif Pengembangan RSUP Dr. M. Djamil
RSUP Dr. M. Djamil menerima kunjungan tim penilai dari Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Kesehatan, serta Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). 

BENTENGSUMBAR.COM
– RSUP Dr. M. Djamil menerima kunjungan tim penilai dari Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Kesehatan, serta Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dalam rangka penilaian pengembangan rumah sakit menjadi rumah sakit pendidikan.

Wali Kota Padang Fadly Amran yang ikut menyambut Tim Penilai di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Rawat Jalan RSUP Dr. M. Djamil, Senin (13/4/2026), menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan. “Kota Padang telah ditetapkan sebagai kota jasa sebagaimana tertuang dalam perencanaan jangka panjang daerah. Artinya, dalam 20 tahun ke depan, Kota Padang akan semakin berkembang sebagai kota berbasis layanan (service), termasuk dalam sektor kesehatan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Fadly Amran menegaskan bahwa penguatan fasilitas dan layanan kesehatan tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan publik, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan. “Kami sangat mendukung penuh inisiatif pengembangan RSUP Dr. M. Djamil yang selama ini menjadi rujukan utama pelayanan kesehatan di Sumatera Barat dan sekitarnya. Dengan tingginya beban layanan, pengembangan rumah sakit ini menjadi sangat penting,” tambahnya.

Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI Ockti Palupi Rahayuningtyas menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan implementasi proyek transformasi rumah sakit pendidikan melalui skema pendanaan internasional, khususnya dari AIIB. Program ini dikenal dengan nama THRUST(Teaching Hospital Referral Upgrading and System Transformation). “Melalui penilaian ini, kami ingin memastikan adanya kesamaan persepsi antar pemangku kepentingan terkait kesiapan implementasi proyek, baik dari aspek teknis maupun kelembagaan, serta memperkuat koordinasi lintas sektor guna mendukung kelancaran pelaksanaan program ke depan,” jelasnya.

Di kesempatan yang sama, Senior Investment Officer and Project Team Leader AIIB Deni A Fauzi menyampaikan, bahwa proyek yang dikenal dengan nama TRAS ini mencakup pembangunan delapan rumah sakit pendidikan di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa proyek ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada penguatan sistem layanan, peningkatan kapasitas institusi, serta standarisasi mutu layanan kesehatan secara nasional.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dovy Djanas, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dr. Sukri Rahmat, serta Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas Diah Lenggogeni. (*)

Jejak Tabot Rejang: Antara Keyakinan, Tradisi, dan Catatan Lama    
Senin, April 13, 2026

On Senin, April 13, 2026

Jejak Tabot Rejang: Antara Keyakinan, Tradisi, dan Catatan Lama
Ia hadir setiap tahun, menyatukan unsur religius, budaya, dan sejarah dalam satu rangkaian peristiwa yang hidup dan diwariskan lintas generasi. 

DI
berbagai daerah di pesisir barat Sumatra, terutama di Bengkulu, perayaan Tabot telah lama dikenal sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Ia hadir setiap tahun, menyatukan unsur religius, budaya, dan sejarah dalam satu rangkaian peristiwa yang hidup dan diwariskan lintas generasi. 

Dalam pemahaman yang berkembang luas, tradisi ini kerap dikaitkan dengan peristiwa Karbala—sebuah tragedi besar dalam sejarah Islam yang melibatkan Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad. Kaitan tersebut telah menjadi bagian dari narasi yang diyakini dan dijaga oleh masyarakat hingga hari ini.

Namun, sebuah catatan lama menghadirkan sudut pandang yang menarik untuk dibaca secara hati-hati.

Pada tahun 1909, sebuah tulisan berjudul Redjangsch Offerfeest dimuat dalam majalah Belanda Eigen Haard. Catatan ini ditulis oleh August van Balgooij, yang merekam kisah yang hidup di tengah masyarakat Rejang pada masa itu. Dalam naskah tersebut, muncul tokoh Bagindo Ali bersama dua putranya, Asan dan Oesin—nama-nama yang secara bunyi mengingatkan pada Hasan bin Ali dan Husain bin Ali.

Akan tetapi, ketika isi kisah itu ditelusuri lebih jauh, alur ceritanya berkembang dalam latar dan pola peristiwa yang berbeda dari kronik Karbala yang dikenal luas. Tidak ditemukan penanda tempat, waktu, maupun rangkaian peristiwa yang secara langsung merujuk pada tragedi tersebut. Sebaliknya, kisah bergerak dalam ruang lokal, dengan konflik dan penyelesaian yang membentuk praktik simbolik yang kemudian diwariskan.

Di titik inilah pembacaan menjadi penting

Catatan ini tidak serta-merta meniadakan pemahaman yang telah hidup di masyarakat. Sebaliknya, ia membuka kemungkinan bahwa tradisi yang ada hari ini terbentuk melalui proses panjang—di mana ingatan keagamaan, penyerapan nama, dan pengalaman lokal saling bertemu dan membentuk narasi yang khas.

Dengan kata lain, apa yang hari ini dipahami sebagai satu kesatuan, bisa jadi merupakan hasil dari pertemuan berbagai lapisan sejarah: antara pengaruh besar dari dunia Islam dan konstruksi budaya setempat.

Bagi masyarakat, tradisi tidak hanya soal asal-usul, tetapi juga tentang makna yang terus dijaga. Tabot bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan praktik yang hidup—yang mengikat identitas, kebersamaan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang diyakini.

Karena itu, membaca kembali catatan lama seperti yang ditulis oleh August van Balgooij bukan untuk membantah keyakinan, melainkan untuk memperkaya pemahaman. Ia mengingatkan bahwa di balik sebuah tradisi, sering kali tersimpan perjalanan sejarah yang tidak tunggal, melainkan berlapis.

Dan justru di situlah nilai pentingnya:
tradisi tetap hidup, sementara pemahaman terus bertumbuh.

Redjangsch Offerfeest, DOOR AUGUST VAN BALGOOI

Pada zaman yang sangat lampau—begitu lampau sehingga tidak ada catatan mengenai kisah ini dalam buku-buku—hidup seorang pengikut setia Nabi Muhammad bernama Bagindo Ali, bersama dua orang putranya, Asan dan Oesin, yang ia didik dengan penuh kebijaksanaan dan ketakwaan. Di atas segalanya, rasa jijik dan kebencian terhadap orang-orang kafir tertanam kuat di hati mereka. Di sela-sela waktu makan, mereka senantiasa melantunkan doa kepada Allah dan Rasul-Nya (semoga nama-Nya dimuliakan), atau Bagindo Ali menceritakan kepada putra-putranya tentang mukjizat yang disaksikannya dari Nabi Muhammad (yang namanya senantiasa dipuji sepanjang masa), serta ajaran-ajaran luhur yang ditanamkan oleh Nabi suci itu ke dalam hati para pengikutnya.

Namun demikian, Allah Mahabesar, dan jalan-Nya tidak dapat dipahami oleh manusia yang lemah bagaikan cacing, yang akan dibutakan seandainya berani mencoba memahami kehendak-Nya. Maka terjadilah, atas kehendak Allah Yang Mahakekal, sekelompok kaum kafir melintasi negeri itu dengan melakukan pembunuhan dan pembakaran, tanpa mengampuni orang-orang tua maupun ibu-ibu muda yang masih menyusui anaknya. Kabar tentang kesucian Bagindo Ali dan kedua putranya juga sampai kepada mereka. Karena rasa takut yang besar, mereka tidak berani berperang secara terbuka melawan ketiganya yang suci itu, melainkan berusaha dengan tipu daya untuk memisahkan mereka agar dapat dibunuh satu per satu. Dengan cara demikian, kaum kafir berhasil meracuni Asan hingga mati.

Bagindo Ali, sang ayah, diliputi kesedihan yang sangat mendalam. Namun kemudian ia menyadari bahwa seandainya bukan atas kehendak Allah, putranya tidak akan gugur, bahkan oleh racun yang paling mematikan sekalipun. Maka ia pun berdoa:

“Wahai Tuhan Yang Maha Esa, ampunilah hamba-Mu yang hina ini atas luapan kesedihan yang lahir dari hati yang lemah dan duniawi, yang belum mampu melepaskan diri dari hal-hal fana di lembah air mata ini. Wahai Muhammad, Nabiku, jadilah engkau perantara bagi hamba-Mu yang tidak layak ini di hadapan Allah Yang Maha Esa. Aku memohon kepada-Nya, sebagaimana aku bersimpuh memohon kepadamu, agar Dia juga memanggil putra sulungku kepada-Nya, sebagai tanda bahwa Dia tidak mencatat keraguan hatiku yang lemah ini dalam Kitab Kehidupan Kekal di surga.”

Setelah doanya yang tulus itu, Bagindo Ali bangkit. Tampak cahaya di matanya yang telah tua, dan harapan kembali turun ke dalam hatinya. Dengan suara lembut namun tegas ia berkata kepada putranya yang masih tersisa, Oesin, dan kepada pelayannya: “Pergilah dan berperanglah melawan kaum kafir. Jika Allah—yang nama-Nya senantiasa dipuji—mengabulkan permohonanku, maka kalian tidak akan kembali lagi ke dunia ini. Semoga berkah Allah Yang Mahatinggi dan Rasul-Nya menyertai kalian.”

Oesin menerima perintah ayahnya dengan penuh rasa syukur, karena sesuai dengan dorongan semangat mudanya yang berkobar. Ia mengenakan pedang, mengenakan sorban suci dari Mekah, lalu berangkat ke medan perang, diikuti oleh pelayannya yang setia, yang namanya tidak lagi tersimpan dalam catatan.

Dalam sengitnya pertempuran, pelayan itu kehilangan tuannya. Ketika hari hampir tenggelam di ufuk, ia berdiri kebingungan seorang diri di medan perang, di samping jenazah Oesin yang telah kehilangan kepala dan satu lengannya. Sambil menangis dan berdoa, ia mencari di sekitar tempat itu hingga akhirnya menemukan lengan yang hilang, yang kemudian ia tempatkan kembali dengan hati-hati pada tubuh jenazah. Setelah itu ia kembali meratap:

“Wahai Allah Yang Mahakuasa, yang nama-Nya senantiasa dimuliakan hingga akhir zaman, bagaimana mungkin tuanku yang tercinta menghadap kepada-Mu tanpa kepalanya, yang gugur dalam pengabdian suci melawan kaum kafir yang terkutuk! Wahai Muhammad yang terpuji, bagaimana mungkin aku menyampaikan aib ini kepada Bagindo Ali yang suci! Bantulah aku dengan pertolongan-Mu yang agung!”

Angin senja bertiup di atas padang luas itu. Dengan harapan yang besar, pelayan tersebut melihat dari kejauhan kain sorban yang tertiup angin. Ia segera berlari ke arah itu dan dengan penuh haru bersujud sambil memanjatkan doa kepada Allah Yang Mahatinggi ketika menemukan kepala tuannya. Dengan hati-hati ia membawanya kembali, lalu meletakkannya di atas tubuh jenazah, dengan wajah menghadap ke arah timur.

Sepanjang malam ia berjaga sambil berdoa di sisi jasad tuannya. Pada pagi hari ia berniat menggali kubur dan kembali kepada Bagindo Ali untuk menyampaikan kabar duka tentang kematian putranya.

Namun ketika fajar mulai merekah di ufuk, ia menyaksikan dengan penuh keheranan bahwa dari langit turun sebuah bangunan. Bangunan itu seluruhnya terbuat dari marmer putih yang indah, dihiasi ukiran dan batu berwarna, serta di sekelilingnya tertulis ayat-ayat Al-Qur’an dengan huruf emas. Bangunan itu turun dari langit hingga mencapai jenazah tuannya, sehingga cahaya dari keindahan itu membuat pelayan tersebut terpesona dan tunduk penuh rasa takut dan hormat sambil melafalkan nama Allah dan Rasul-Nya.

Ketika ia kembali menengadah, bangunan itu bersama jenazah telah lenyap dalam cahaya langit yang gemerlap.

"Allah Mahabesar dan Muhammad adalah Rasul-Nya; tidak ada Tuhan selain Allah, dan segala puji bagi-Nya,” seru sang pelayan, lalu bergegas menuju Bagindo Ali untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Peristiwa itu terjadi pada hari ke-10 bulan Muharam.

Sejak saat itu, setiap tahun, mulai hari pertama Muharam—hari keberangkatan tuannya ke medan perang—pelayan tersebut membuat tiruan bangunan yang dilihatnya itu. Pada hari kesepuluh Muharam ia mempersembahkannya ke air sebagai ungkapan syukur, dan ia mewasiatkan kepada anak-anak serta keturunannya untuk melakukan hal yang sama setelah wafatnya, selama masih ada keturunan yang hidup atas karunia Allah dan Rasul-Nya.

Penutup 

Pada akhirnya, membaca tradisi seperti Tabot Rejang melalui catatan-catatan lama bukan soal mengubah keyakinan yang telah hidup di masyarakat, melainkan memperluas cara pandang terhadap bagaimana sebuah tradisi terbentuk dan bertahan. Di antara teks, ingatan, dan praktik budaya, selalu ada ruang yang memperlihatkan bahwa sejarah tidak pernah berdiri tunggal, melainkan bergerak dalam lapisan-lapisan makna yang terus berkembang seiring waktu.

Sumber naskah dan gambar : Eigen Haard; Geïllustreerd Volkstijdschrift, 1909, no. 16, 17-04-1909
Penyunting: Marjafri

PDM dan PDA Kota Pariaman Gelar Silaturrahmi Syawal 1447 H/2026 M    
Senin, April 13, 2026

On Senin, April 13, 2026

PDM dan PDA Kota Pariaman Gelar Silaturrahmi Syawal 1447 H/2026 M
Asisten Pemerintahan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Pariaman Elfis Candra ajak Anggota Muhammadiyah bersama membangun Kota Pariaman.

BENTENGSUMBAR.COM
- Hadiri silaturrahim Syawal 1447 H/2026 M, yang diinisiasi oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Pariaman, Wali Kota Pariaman  diwakili  Asisten Pemerintahan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Pariaman Elfis Candra ajak Anggota Muhammadiyah bersama membangun Kota Pariaman.

“Kami mengapresiasi Muhammadiyah lewat PDM dan PDA beserta jajarannya, yang telah menggelar kegiatan silaturrahim Syawal atau Halal Bihalal ini. Untuk itu kami mengajak kepada Anggota Muhammadiyah Kota Pariaman untuk bersama-sama bergandengan tangan, karena dengan bersama kita bisa melakukan hal-hal besar untuk membangun Kota Pariaman,” ujar Elfis Candra ketika menghadiri silaturrahim Syawal 1447 H/2026 M yang dihelat di Panti Aisyiyah Taratak, Kota Pariaman, Minggu (12/4/2026).

Asisten I Pemerintah Kota Pariaman ini juga menambahkan  di bulan Ramadhan, telah menempa kita menjadi pribadi yang muttaqin. 

Kini, bulan Syawal adalah ajang untuk peningkatan (tajdid), ucapnya.

“Dengan silaturrahim ini, mengingatkan kita semua bahwa esensi dari selesainya Ramadhan, bukanlah berakhirnya ibadah, melainkan dimulainya pembuktian, apakah nilai-nilai takwa yang kita pupuk kemarin, mampu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” tukasnya.

Elfis menyampaikan silaturahmi hari ini, bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan penguat ukhuwah untuk menyatukan hati, pikiran, dan tindakan di tengah berbagai perbedaan demi kemaslahatan umat, sesuai dengan tema yang diangkat “tebarkan maaf, sucikan hati dan bertumbuh dalam kebersamaan," ulasnya.

“Kami yakin, ke depan Kota Pariaman jauh lebih maju, hebat dan terdepan dari hari ini. Keberlanjutan pemerintahan dan pembangunan ke arah yang lebih baik, merupakan suatu harapan yang terus kita gelorakan dan perjuangkan, untuk meraih apa yang sudah dititipkan masyarakat kepada kami,” tuturnya.

Terkait keagamaan, Elfis menyebutkan Kota Pariaman mempunyai Program Unggulan Pariaman RISALAH (Beriman, Saleh dan Berahlak), Satu Keluarga Satu Hafiz , Kembali ke Surau dan Pesantren ASN, dan program ini telah kita jalankan lebih 1 tahun kepemimpinan Yota Balad-Mulyadi, ujarnya.

“Pada akhir Ramadhan kemaren, telah menyantuni sebanyak 450 anak yatim dan piatu di Kota Pariaman, dari zakat yang dikumpulkan oleh seluruh ASN Pemko Pariaman. Ke depanya akan kita tingkatkan kembali untuk jumlah penerima di tahun-tahun selanjutnya,” tutupnya.

Ceramah agama  disampaikan Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Sumbar, Ustadz Suprizen. Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama,  dan  disediakan panitia untuk cek kesehatan gratis dari Rumah Sakit Aisyiyah Kota Pariaman.

Hadir Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat (Sumbar), Wakil Ketua Yosmeri Yusuf, Ketua PDM Kota Pariaman Nasri, Ketua PDA Kota Pariaman Endrawati, para Ketua PDM di masa-masa sebelumnya, jajaran pengurus PDM dan PDA Kecamatan, Ortom Muhammadiyah dan Aisyiyah di semua tingkatan se Kota Pariaman serta anak-anak Panti Asuhan  Asyiyah Kota Pariaman. (J/at)

Polres Solok Kota Gempur Lokasi PETI di Sibarambang    
Senin, April 13, 2026

On Senin, April 13, 2026

Polres Solok Kota Gempur Lokasi PETI di Sibarambang
Tim Gabungan Satreskrim Polres Solok Kota bersama jajaran Polsek X Koto di Atas melakukan operasi penertiban terhadap aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Menanggapi aspirasi masyarakat, Tim Gabungan Satreskrim Polres Solok Kota bersama jajaran Polsek X Koto di Atas melakukan operasi penertiban terhadap aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). 

Aksi penegakan hukum ini dilaksanakan di Dusun Karimbang, Nagari Sibarambang, Minggu malam hingga Senin dini hari (12-13/04/2025).

Operasi dipimpin langsung oleh Kanit Tipidter Satreskrim, Ipda Ropi Arpindo, S.H., berdasarkan perintah tegas Kapolres Solok Kota melalui Kasat Reskrim.

Perjalanan menuju lokasi bukan perkara mudah, tim harus menempuh medan berat berupa perbukitan yang terjal dan berliku, bahkan harus berjalan kaki selama kurang lebih dua jam untuk mencapai titik lokasi.

Bongkar Sarana PETI, Alat Dibakar di Lokasi

Sesampainya di lokasi, tim menemukan bekas aktivitas galian tambang yang cukup luas.

Meskipun para pelaku diduga telah mengetahui kedatangan aparat dan melarikan diri beserta alat berat yang digunakan, petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti pendukung.

"Ditemukan sarana dan prasarana seperti tenda, selang air, serta bekas-bekas dompengan pengolahan emas. Seluruh barang bukti tersebut kami musnahkan langsung di tempat dengan cara dibakar guna mencegah penggunaan kembali," jelas Ipda Ropi.

Setelah pemusnahan, tim memasang garis polisi (police line) sebagai tanda wilayah tersebut dilarang untuk aktivitas ilegal dan memberikan himbauan langsung kepada warga sekitar.

Ancaman Pidana 5 Tahun & Denda Rp100 Miliar

Kapolres Solok Kota melalui jajarannya menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam menegakkan hukum.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba, setiap pelaku PETI diancam pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda hingga Rp100 miliar.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak hanya melihat keuntungan sesaat, tetapi memikirkan dampak kerusakan lingkungan dan hukum yang berat di kemudian hari. Aktivitas ini dilarang keras dan harus dihentikan," tegasnya.

Polisi Butuh Peran Warga

Menutup keterangannya, Ipda Ropi mengakui bahwa wilayah yang luas dan tersembunyi menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, peran serta masyarakat sangat vital.

"Masih banyak kemungkinan lokasi PETI lainnya yang beroperasi. Untuk itu, kami sangat mengharapkan laporan dan dukungan dari warga agar praktik ilegal ini bisa diberantas sampai ke akar-akarnya," pungkasnya.

Polres Solok Kota kembali mengingatkan, kepolisian akan terus melakukan patroli dan penindakan tegas di seluruh wilayah hukumnya demi menjaga kelestarian alam dan kepatuhan hukum. (BO)

Wawako Suryadi Hadiri Pengukuhan DWP, Dorong Peran Strategis Perempuan    
Senin, April 13, 2026

On Senin, April 13, 2026

Wawako Suryadi Hadiri Pengukuhan DWP, Dorong Peran Strategis Perempuan
Wakil Wali Kota Solok, H. Suryadi Nurdal, menghadiri acara pengukuhan Pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unsur Pelaksana se-Kota Solok masa bakti 2024–2029

BENTENGSUMBAR.COM
– Wakil Wali Kota Solok, H. Suryadi Nurdal, menghadiri acara pengukuhan Pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unsur Pelaksana se-Kota Solok masa bakti 2024–2029. Kegiatan berlangsung khidmat di Gedung Kubung 13, Senin (13/04/2026).

Acara ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah, Penasehat DWP Kota Solok Ny. Dona Ramadhani, para pimpinan OPD, serta seluruh jajaran organisasi wanita di lingkungan pemerintah kota.

Dalam sambutannya, Wawako Suryadi menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus yang baru dilantik.

Ia menegaskan bahwa pengukuhan ini bukan sekadar upacara seremonial, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk membawa organisasi semakin maju.

“Dharma Wanita Persatuan memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya dalam meningkatkan kualitas keluarga ASN dan pemberdayaan perempuan,” ujar Wawako.

Oleh karena itu, ia berharap kepengurusan baru ini dapat menjalankan program kerja yang inovatif dan adaptif. 

Sinergi yang kuat dengan pemerintah daerah sangat diharapkan agar dapat berkontribusi nyata dalam bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi, menuju Kota Solok yang berjuara, berkah, dan sejahtera.

Sementara itu, Penasehat DWP, Ny. Dona Ramadhani, juga menekankan pentingnya menjalankan amanah dengan penuh dedikasi.

“Kami berharap Ketua dan seluruh pengurus dapat membawa organisasi menjadi semakin maju, solid, dan berdaya saing tinggi,” tuturnya.

Diharapkan, melalui kepengurusan yang baru ini, DWP dapat semakin aktif memberikan manfaat bagi anggota maupun masyarakat luas. (BO)