PMII Pariaman, Gelar Bedah Buku 18 Tahun Jejak dan Dinamika PMII di Sumbar (2006-2024)
On Minggu, Februari 15, 2026
Bedah buku “18 Tahun Jejak dan Dinamika PMII di Sumatera Barat (2006-2024)” Sabtu (14/2/2026) malam melalui zoom meeting. |
Demikian terungkap pada bedah buku “18 Tahun Jejak dan Dinamika PMII di Sumatera Barat (2006-2024)” Sabtu (14/2/2026) malam melalui zoom meeting.
Bedah buku menampilkan pembicara Wakil Dekan FEBI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Asyari Hasan, S.H.I., M.Ag., C.M dan Dosen FEBI UIN Sjech Muhammad Djamil Djambek (SMDD) Bukitinggi Hardiansyah Padli, SE.I., M.E dengan moderator Ketua Mabincab PMII Kota Pariaman Masrizal.
Menurut Asyari Hasan, buku “18 Tahun Jejak dan Dinamika PMII di Sumatera Barat (2006-2024)” ini membuka cakrawala baru tentang berbagai kemungkinan ke depan.
Ruang bagi pengembangan gerakan intelektual, penguatan jejaring antar wilayah, hingga kolaborasi lintas sektor menjadi titik terang yang sangat menjanjikan, apalagi di tengah era digital dan keterbukaan informasi seperti saat ini.
Ini menjadi peluang besar untuk menjadikan PMII Sumatera Barat sebagai aktor penting dalam pembangunan sosial dan kebudayaan.
“Saya berharap buku ini tidak hanya menjadi konsumsi internal warga PMII secara organisatoris dengan lingkup hanya di Sumatera Barat, tetapi juga dapat dinikmati oleh masyarakat umum, akademisi, serta pemerhati gerakan mahasiswa sebagai bagian dari khazanah sejarah gerakan mahasiswa Islam Indonesia. Buku ini adalah bukti bahwa sejarah tidak boleh dilupakan, karena dari sanalah kita belajar, tumbuh, dan bergerak menuju masa depan yang lebih baik,” kata Asyari Hasan menambahkan.
Terlepas dari kekurangan buku ini, karena pertama membahas PMII di Sumatera Barat, kehadirannya tentu sangat berarti.
Buku ini sudah menoreh sejarahnya sendiri. Layak diberikan apresiasi sebagai karya intelektual yang sudah memberikan makna bagi PMII, organisasi mahasiswa yang berpahamkan Ahlussunnah Waljamaah ini, ungkap Asyari Hasan mantan aktivis PMII di Yogyakarta.
Pembicara Hardiansyah Padli, mengatakan, makna kehadiran buku ini adalah menyelamatkan sejarah PMII Sumatera Barat, merekam fase kevakuman hingga kebangkitan dan merupakan gerakan yang perlu ditulis agar diwariskan.
“Surat, tulisan dan perlawanan sunyi adalah sejarah yang menunjukkan perubahan lahir batin. Seperti Raden Ajeng Kartini yang menggunakan surat sebagai kritik sunyi mengungkap peristiwa-peristiwa yang dilihat dan dirasakannya. Memang tulisan tersebut bekerja pelan namun berdampak panjang,” tutur Padli mantan aktivis mahasiswa di Bukittinggi ini.
Menurut Padli, kehadiran buku adalah arsip dan cermin organisasi PMII di Sumatera Barat yang pernah ada. Juga undangan refleksi dan tanggung jawab sejarah.
Organisasi besar tentunya mampu mengingat dan mewariskan makna dalam gerakan mahasiswa di zamannya.
Penulis buku Armaidi Tanjung menyampaikan terima kasih kepada PC PMII Kota Pariaman yang sudah menyelenggarakan bedah buku, kedua pembicara yang sudah membahasnya dan moderator.
Buku ini merupakan buku pertama terkait Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Sumatera Barat yang pernah diterbitkan dengan rentang waktu yang cukup lama.
Sebelumnya pernah diterbitkan buku Dari Ranah Minang menuju Salemba yang ditulis Satria Efendi Tuanku Kuning, aktivis PMII dari Kota Pariaman yang pernah berkiprah di PB PMII.
“Buku diterbitkan Agustus 2025 setebal xx + 370 halaman, terdiri dari 7 bagian. Buku ini sebagai langkah awal mengenal PMII di Sumatera Barat pada dua dekade belakangan. Silakan pemerhati dan peneliti lain melanjutkan untuk pengkajian yang lebih mendalam,” tutur Armaidi Tanjung, Sekretaris DPD Satupena Sumatera Barat ini.
Bedah buku dibuka Ketua PC PMII Kota Pariaman Anisa Pitri dihadiri puluhan kader PMII di Sumatera Barat, maupun yang berada di luar Sumatera Barat. (At)